Adolf Hitler berfoto bersama Perdana Menteri Inggris Neville Hewitt Chamberlain di konferensi Münich yang berlangsung bulan September 1938. Disinilah mulai terungkap akan masa lalu Hitler yang tak terduga
Lukisan terkenal dari Fortunino Matania berjudul "Marcoing" yang memperlihatkan prajurit Henry Tandey sedang menggotong rekannya yang terluka. Tanpa disangka, Adolf Hitler menyimpan kopi lukisan ini di tempat peristirahatannya, yang ternyata mengingatkannya pada saat-saat dia masih muda, ketika seorang prajurit Inggris menyelamatkan nyawanya yang sudah di ujung tanduk!
Henry Tandey si prajurit Inggris peraih Victoria Cross sekaligus orang yang "Berjasa" menyelamatkan Hitler dalam Perang Dunia I
Adolf Hitler ketika menjalani masa perawatan setelah terluka di front pertempuran. Di foto bertanggal 26 Oktober 1916 ini dia berpose dengan para rekan sejawatnya dengan mengenakan pakaian putih rumah sakit. Yang manakah dia? Cari saja huruf "X" di atas kepala, nah kepalanya itu adalah Hitler sendiri!
Adolf Hitler sebagai seorang prajurit biasa, difoto ketika baru mendaftar menjadi sukarelawan tahun 1914. Kumisnya masih belum berbentuk khas seperti Chaplin!
Oleh : Alif Rafik Khan
Perjalanan sejarah selalu dipenuhi oleh momen-momen menentukan yang oleh para cendekiawan disebut sebagai “what if’s” (bagaimana bila), dimana bila saja peristiwa tersebut berakhir sedikit berbeda, maka perjalanan hidup umat manusia secara keseluruhan akan berubah secara dramatis. Peristiwa semacam itu terjadi di babakan akhir Perang Dunia Pertama di sebuah desa Prancis bernama Marcoing, yang melibatkan seorang prajurit Inggris berusia 27 tahun bernama Henry Tandey dari Warwickshire, dan seorang kopral Jerman berusia 29 tahun dari Braunau, Austria, bernama... Adolf Hitler.
Henry Tandey dilahirkan di Leamington, Warwickshire, tanggal 30 Agustus 1891, merupakan anak dari mantan tentara bernama James Tandey. Setelah mengalami masa anak-anak yang penuh kesulitan, sebagian karena sempat menghabiskan hidupnya di rumah yatim piatu, Tandey bekerja sebagai pelayan ketel di sebuah hotel di Leamington sebelum mendaftarkan diri di Angkatan Darat Inggris, bergabung dengan the Green Howards Regiment bulan Agustus 1910, dengan harapan untuk menjalani hidup yang penuh petualangan seperti impian masa kecilnya.
Prajurit Tandey bertugas bersama batalion kedua di Afrika Selatan dan Guernsey sebelum pecahnya perang tahun 1914. Dalam perang akbar ini, dia ikut berjibaku dalam pertempuran Ypres yang pertama bulan Oktober 1914. Dua tahun kemudian kakinya terluka dalam Pertempuran Somme. Sedikit masa dijalani di rumah sakit militer di Inggris, untuk kemudian dipindahkan ke Batalion ke-9 yang berkedudukan di Flanders, hanya untuk mengalami luka yang kedua kalinya di Passchendaele bulan November 1917. setelah keluar dari rumah sakit dia bergabung dengan Batalion ke-12 di Prancis tahun 1918. Unitnya sendiri dibubarkan bulan Juli tahun yang sama, dan Tandey diperbantukan di Resimen Duke of Wellington ke-5 dari 26 Juli sampai dengan 4 Oktober 1918. pada saat inilah prajurit Tandey dianugerahi DCM atas keberaniannya dalam pertempuran di Vaulx Vraucourt tanggal 28 Agustus, MM untuk heroisme di Havrincourt tanggal 12 September, dan Victoria Cross untuk keberanian yang luar biasa di Marcoing tanggal 28 September 1918. Setelah Perang Dunia I berakhir, dia ditempatkan di Resimen Duke of Wellington ke-2 di Gibraltar, Turki dan Mesir tanggal 4 Februari 1921. Setelah merasa cukup ‘bertualang’, Tandey berhenti dari ketentaraan tanggal 5 Januari 1926 dengan pangkat terakhir Sersan, dan meninggalkan nama harum sebagai prajurit Inggris dengan medali tertinggi dalam Perang Dunia I! Kalau saja dia jadi perwira, tak diragukan lagi titel bangsawan pastilah akan disematkan kepadanya.
Nama Tandey disebutkan lima kali dalam berita perang dan telah jelas mendapatkan Victoria Crossnya selama pendudukan desa Prancis dan penyeberangan ke Marcoing. Resimennya tertahan oleh tembakan senapan mesin, dan Tandey merangkak maju untuk mencari tahu lokasi dari sarang senapan mesin yang telah menimbulkan neraka pada pasukannya. Tak lama sarang tersebut telah dinetralisir oleh prajurit ini. Ketika tiba di tempat persimpangan, dengan berani dia menantang peluru untuk meletakkan sebuah papan kayu sebagai penutup lubang yang terbuka yang memungkinkan pasukannya tetap maju dan meladeni pasukan Jerman. Tapi hari belumlah berakhir, dan sekali lagi Tandey menunjukkan keperwiraannya. Dia memimpin serangan bayonet terhadap musuh yang kini telah kalah jumlah, dan berhasil memaksakan pasukan Jerman berpikir ulang apakah mereka akan meneruskan perlawanan kalau memang situasinya sudah sangat tidak memungkinkan bagi mereka. Setelah pertempuran seru tersebut hampir berakhir dan pasukan Jerman mulai menyerah atau bergerak mundur, seorang prajurit Jerman yang terluka berjalan dengan terpincang-pincang dan tepat berada dalam sasaran bidikan prajurit Tandey. Tentara musuh dengan seragam yang telah lusuh dan muka acak-adut tersebut tak pernah mengangkat senapannya dan hanya menatap Tandey, seakan meminta belas kasihan. “Aku telah siap untuk membidiknya tapi tak mampu menggerakkan pelatuk untuk menembak prajurit yang terluka itu, jadi aku biarkan ia pergi,” kata Tandey.
Prajurit Jerman itu lalu menganggukkan kepalanya seakan berterimakasih, dan kemudian kedua orang tersebut berpisah jalan, di hari itu dan juga di dalam sejarah kemudian. Hitler mundur bersama pasukan Jerman yang masih tersisa dan berhasil sampai dengan selamat di Jerman, dimana setelah perang berakhir dia menanjak dengan cepat dalam karir politiknya dengan “menjual” kisah pengkhianatan Yahudi dalam kekalahan Jerman di Perang Dunia I. Sementara bagi Tandey sendiri, tak lama dia telah melupakan peristiwa bersama prajurit Jerman tersebut dan bergabung kembali dengan resimennya, tak mengetahui bahwa dia telah dianugerahi oleh medali keberanian tertinggi yang bisa diberikan Inggris bagi para ksatrianya, Victoria Cross!Berita itu diumumkan di London Gazette terbitan 14 Desember 1918 dan yang menyematkan medali itu pada Tandey di Buckingham Palace tanggal 17 Desember 1919, tidak lain tidak bukan adalah raja George V langsung! Dalam berita-berita koran yang terbit kemudian terdapat sebuah foto yang memperlihatkan Tandey sedang memanggul prajurit yang terluka dalam Pertempuran Ypres, suatu gambar dramatis yang mensimbolisasikan bahwa seharusnyalah perang ini dapat mengakhiri perang-perang yang akan muncul kemudian. Foto tersebut menjadi begitu terkenalnya, sehingga diabadikan ke dalam kanvas oleh pelukis Italia Fortunino Matania.
Tandey berhenti dari ketentaraan di tahun 1926 dalam usia 35 tahun dengan pangkat terakhirnya adalah Sersan. Dia lalu tinggal di Leamington untuk kemudian menikah dan menjalani kehidupan sebagai seorang sipil. Dia menghabiskan 38 tahun berikutnya sebagai kepala keamanan pabrik di Triumph, yang lalu dikenal sebagai Standard Motor Company. Tandey hidup tanpa gembar-gembornya dunia luar dan meskipun dia dipandang sebagai seorang pahlawan perang oleh semuanya, tapi dia bukanlah tipe orang yang suka menghabiskan waktu untuk menyombongkan apa yang telah dia lakukan, dan malahan tak akan mau untuk membicarakannya kecuali ada orang yang bertanya.
Di tahun 1938 Perdana Menteri konservatif Inggris Neville Chamberlain (1869-1940), yang menjabat dari tahun 1937-1940, berangkat dengan muram ke Münich untuk bertemu dengan Kanselir Hitler dalam usaha terakhir untuk mencegah perang, yang kemudian berujung ke sesuatu yang lebih dikenal sebagai “Perjanjian Münich”. Dalam kunjungan tersebut Hitler mengundangnya untuk mengunjungi tempat peristirahatannya yang baru selesai dibangun di Berchtesgaden, Bavaria, yang merupakan hadiah ulang tahun dari Martin Bormann dan Partai Nazi. Bangunan tersebut berdiri setinggi 6017 kaki di atas gunung Kehlstein, dan disitu orang dapat melihat ke semua arah sampai sejauh 200 kilometer! Ketika disana sang Perdana Menteri menjelajahi bagian puncak dari bangunan dan menemukan sebuah reproduksi dari lukisan terkenal hasil karya Matania tentang pertempuran di Marcoing. Chamberlain langsung puyeng atas pilihan karya seni Hitler ini, yang menempatkan lukisan seorang pasukan Sekutu di bagian paling utama bangunan tempat peristirahatannya! Hitler tahu akan kebingungan seterunya, lalu menjelaskan, “kalau saja orang itu membunuhku dalam pertempuran tersebut, maka aku tak akan pernah melihat Jerman kembali, kuasa Tuhan telah menyelamatkanku dari tembakan-tembakan akurat yang diarahkan anak-anak Inggris itu pada kami.”
Tak pernah diketahui bagaimana tanggapan Chamberlain atas keterangan mengejutkan ini, karena tak lama Perang Dunia II yang sangat ditakutkannya pecah juga dan Chamberlain pun digantikan oleh Winston Churchill, untuk kemudian meninggal beberapa bulan setelah lengser disebabkan oleh kanker perut. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, saya berkeyakinan bahwa Chamberlain pastinya berharap bahwa Tandey seharusnya menarik pelatuknya dan bukan melepaskannya, sehingga menghindarkan dunia (dan dirinya) dari berhadapan dengan Hitler di kemudian hari! Sebelum berpisah, tak lupa Hitler memanfaatkan waktu yang sedikit untuk meminta Chamberlain agar menyampaikan salam persahabatan dan terimakasih kepada Tandey, yang lalu berjanji akan menelepon si mantan prajurit sekembalinya ke London. Sampai pada saat itu Tandey tak pernah mengetahui sedikitpun bahwa orang yang berada dalam bidikan tembakannya 20 tahun lalu adalah sang diktator yang terkenal Adolf Hitler. Ketika diberitahu, yang ada adalah keterkejutan yang sangat, apalagi bila kita tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang dia bangga-banggakan sebelumnya.
Kabar itu akhirnya bocor juga ke dunia luar di tahun 1940, meskipun pada mulanya tak banyak orang peduli. Barulah di tahun-tahun sekarang orang mulai menaruh minat pada sisi lain dari sejarah ini. Beberapa sejarawan mengungkapkan keraguannya mengingat bahwa cerita ini terlalu bagus untuk dipercaya, meskipun dilihat dari sudut manapun ini adalah suatu fakta dan bukan kabar angin-angin belaka. Dari sudut logika pun, bisa dilihat bahwa tak akan ada manusia yang membuat cerita tentang bagaimana dia menyelamatkan orang lain yang kemudian menjadi musuh negaranya, yang membom Coventry, mem-Blitz London dari udara, dan manapaktilasi Julius Caesar dan Napoleon Bonaparte dalam menguasai Eropa! Resimen Hitler memang berada di Marcoing pada saat itu meskipun keberadaannya sendiri disana tak dapat diverifikasi. Sebabnya adalah karena banyak catatan militer Jerman di Bundesarchiv (Arsip Negara) yang hilang dalam Perang Dunia II akibat dari pemboman Sekutu yang terus menerus atas kota Berlin. Karenanya, dokumen yang menunjukkan lokasi persis keberadaan Hitler di tanggal 28 September 1918 tak tersedia. Para pembuat biografi Hitler pun mempunyai opini yang berbeda atas hal ini. Satu yang tak terbantahkan : Hitler mempunyai kopi lukisan Matania terkenal yang memperlihatkan Tandey dari sejak tahun 1937, yang mendapatkannya dari resimen lama Tandey. Kolonel Earle (mantan komandan resimen tersebut) mengatakan bahwa dia pernah mendengar dari seseorang bernama Dr. Schwend tentang keinginan Hitler untuk mempunyai foto besar lukisan Matania. Yang jelas tak lama kemudian keinginan Hitler dipenuhi karena ajudan Hitler yang bernama Hauptmann Weidmann menulis surat terimakasih ini pada Earle :
“Saya ingin menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya dari Führer atas hadiah persahabatan yang telah dikirimkan ke Berlin melalui kantor Dr. Schwend ini. Führer selalu mempunyai rasa ketertarikan atas segala sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman pribadinya dalam Perang Dunia I, dan beliau jelas-jelas tersentuh ketika saya memperlihatkan reproduksi tersebut padanya. Beliau sangat berterimakasih atas hadiah yang anda berikan, yang telah membawa begitu banyak kenangan untuknya.”
Salah satu sumber terpercaya lainnya akan cerita ini tentulah keluarga Tandey sendiri, yang hadir ketika Perdana Menteri Chamberlain menelepon untuk menyampaikan berita tentang Hitler. Keponakan Tandey yang bernama William Whateley dari Thomaby mengingat kembali sebuah telepon misterius yang terjadi hampir 60 tahun yang lalu, ketika awan kelabu peperangan mulai timbul di atas Eropa dan Perdana Menteri Chamberlain berusaha dengan sia-sia untuk mencegahnya. Di suatu sore telepon berdering dan Henry pergi untuk menjawabnya. Ketika kembali dia berkata bahwa yang menelepon adalah sang Perdana Menteri itu sendiri. Dia baru saja kembali dari pertemuannya dengan Hitler, dan ketika sedang berada di Berchtesgaden dia memperhatikan sebuah lukisan dari Matania yang memperlihatkan 2nd Green Howards di persimpangan Menin tahun 1914. Chamberlain bertanya tentang apa yang mereka lakukan disana, dan jawaban Hitler adalah dengan menunjuk gambar Tandey yang berdiri di latar depan sambil berkata, “Ini orang yang nyaris saja menembak mati saya.”
Salah satu dari aspek penting dari peristiwa ini yang menjadi perhatian utama para sejarawan adalah fakta bahwa Adolf Hitler dan Henry Tandey sama-sama berjibaku dalam Pertempuran Ypres tahun 1914, suatu peristiwa penting dalam hidup Hitler. Disini dia berkali-kali menunjukkan keperwiraannya dalam pertempuran, salah satunya dengan menyelamatkan nyawa seorang perwira yang terluka parah. Atas jasa-jasanya, maka pangkat Hitler dinaikkan menjadi Kopral. Gambar Matania yang terkenal yang memperlihatkan Tandey sedang menggotong rekannya yang terluka ke tempat pertolongan pertama di Persimpangan Menin pun sebenarnya dibuat berdasarkan pertempuran tersebut dan bukan Marcoing. Ada kemungkinan bahwa telah terjadi simpang siur akan lokasi yang sebenarnya dari pertemuan bersejarah antara Hitler dan Tandey, kemungkinan besar Ypres dan hanya sedikit kemungkinan Marcoing. Tandey sendiri pernah mengatakan bahwa dalam perang tugasnya adalah sebagai perawat teman yang terluka sekaligus orang yang melucuti tentara Jerman yang menyerah, sehingga kemungkinan besar Marcoing bukanlah saat pertama atau terakhir dimana dia melakukan suatu perbuatan yang manusiawi di suatu keadaan yang tidak manusiawi. Kenyataan bahwa Tandey dianugerahi Victoria Cross atas jasa-jasanya dalam Pertempuran Marcoingmungkin saja telah mempengaruhi Perdana Menteri Chamberlain akan ingatannya tentang bincang-bincang kenangan perang dengan Hitler. Tentu saja, berita tentang penganugerahan medali paling bergengsi Inggris pada orang yang telah menyelamatkannya akan membuat Hitler terkesan lebih lagi. Satu yang jelas dan tak terbantahkan adalah, bahwa ada hubungan yang sangat penting antara Hitler dengan lukisan Fortunino Matania yang memperlihatkan Tandey. Führer bukanlah tukang koleksi rekaman perang Inggris, dan kalaupun dia menginginkan lukisan tentang Pertempuran Ypres atau pertempuran-pertempuran lainnya dalam Perang Dunia I, tentulah dia lebih memilih lukisan yang mengetengahkan pasukan Jerman sendiri daripada pasukan musuh yang digambarkan sebagai pahlawan!
Di perang tersebut, Adolf Hitler (1889-1945) bergabung dengan Resimen Infanteri Bavaria ke-16 dan menjadi pengantar berita dari dan ke front. Dia membuktikan dirinya sebagai seorang prajurit yang berani dan terpercaya, terluka dua kali dan hampir saja mati karena gas beracun. Komandannya tidak buta, dan Hitler dianugerahi medali Eiserne Kreuz kelas pertama. Secara pribadi, Hitler mempunyai keyakinan tinggi bahwa takdir telah menuntunnya menjadi pemimpin Reich Jerman, dan memandang dirinya sendiri sebagai penyelamat ras Jerman, suatu hal yang sebagian dipengaruhi oleh opera-opera melodramatis karangan Wagner. Dia percaya bahwa apa yang telah dilakukan oleh Tandey terhadap dirinya adalah bagian dari takdir lain yang lebih besar yang diamanatkan padanya, keyakinan yang sama pula ketika secara ajaib dia berkali-kali selamat dari usaha pembunuhan yang diarahkan terhadap dirinya. Yang jelas, Hitler tidak pernah melupakan saat-saat mudanya dimana dia hampir saja bertemu dengan malaikat maut, dan juga wajah orang yang “memberinya” kehidupan. Dia mempunyai klipingan koran yang memperlihatkan foto terkenal ketika prajurit Tandey dianugerahi Victoria Cross, dan dia menyimpannya sepanjang waktu. Ketika Hitler naik menjadi penguasa, dia memerintahkan agar para pejabat berkepentingan menyimpan rekaman tugas militernya selama Perang Dunia I, dan juga tidak lupa meminta reproduksi lukisan Matania, yang kemudian dia pasang dan tunjukkan kepada para pengunjung rumah peristirahatannya dengan penuh kebanggaan.
Reproduksi lukisan tersebut tak lagi diketahui nasibnya setelah perang, apakah telah hancur atau dicuri oleh pasukan Sekutu yang merampok, merampas dan merusak Eagles Nest ketika perang mendekati akhirnya. Pasukan Inggris sudah bersiap-siap untuk melenyapkannya dari muka bumi dengan menggunakan setruk penuh dinamit, ketika para perwira Amerika datang tepat pada waktunya dan menyuruh sekutunya tersebut untuk mengurungkan niatnya dan kembali menyelesaikan perang yang belum selesai.
Selama hidupnya, Tandey dihantui oleh kenangan akan perbuatan “baik” yang telah dilakukannya di masa perang, dimana satu tarikan pelatuk sederhana akan menyelamatkan dunia dari bencana yang menelan puluhan juta jiwa manusia. Dia tinggal di Coventry ketika Luftwaffe membombardir kota tersebut di tahun 1940. Tandey hanya mampu berlindung di tempat penampungan sementara di luar api menggila dimana-mana bagaikan inferno dalam deskripsi Dante. Dia juga berada di London ketika kota tersebut kebagian gilirannya dibom, dan menceritakan pengalamannya kepada seorang jurnalis di tahun 1940, “Bila saja aku tahu apa dia akan menjadi apa. Ketika aku melihat semua orang, anak-anak dan wanita yang terbunuh juga terluka, aku begitu menyesal aku telah melepaskannya.”
Tandey, yang ketika perang kedua kalinya pecah telah berumur 49 tahun, berusaha untuk bergabung kembali dengan resimen lamanya dengan harapan untuk “tak melepaskannya kali ini”, tapi kemudian tidak lolos tes fisik karena pengaruh luka yang dideritanya dalam Pertempuran Somme. Tapi Tandey tak menyerah, dan memilih untuk bertugas sebagai sukarelawan sipil di Homefront.
Henry Tandey VC DCM MM meninggal dunia dengan tenang di Coventry tahun 1977 di usia 86 tahun. Sesuai dengan permintaan terakhirnya, jenazahnya dikremasi dan abunya disimpan di Pekuburan Inggris di Marcoing bersama dengan rekan-rekannya yang telah gugur, juga dekat dengan lokasi dimana dia mendapatkan Victoria Cross 60 tahun sebelumnya. Tiga tahun kemudian, janda Tandey menjual medali-medali suaminya dengan harga pemecah rekor £27.000. riwayat medali ini masih belum berakhir, karena pada Armistice Day tahun 1997 mereka diperlihatkan kembali ke Resimen Lama Tandey, The Green Howards, oleh Sir Ernest Harrison OBE dalam suatu upacara istimewa di Menara London. Saat ini medali-medali tersebut tersimpan dengan rapi di The Green Howards Regimental Museum.
Begitu terkesannya Adolf Hitler pada aksi berani para Fallschirmjäger dalam penyerbuan mereka ke Eben-Emael, sehingga dia menganugerahkan Ritterkreuz pada para perwiranya yang terlibat. Disini Hitler berpose bersama para perwira tersebut tak lama setelah acara pemberian medali. Dari kiri ke kanan : Egon Delica, Rudolf Witzig, Walter Koch, Otto Zierach, Adolf Hitler, Helmut Ringler, Joachim Meissner, Walter Kiess, Gustav Altmann dan Rolf Jäger
Major Horst Trebes (kanan) dan anggota Fallschirmjäger lain dalam acara penganugerahan medali di pulau Kreta tahun 1941, setelah pulau tersebut berhasil diduduki Jerman dengan pengorbanan yang berdarah-darah dari Fallschirmjäger. Horst Trebes adalah mungkin satu-satunya penerima Ritterkreuz di seluruh Wehrmacht yang medalinya dicopot, dihukum, tapi kemudian direhabilitasi kembali! Gara-garanya adalah dia tidak sengaja membunuh temannya ketika mabuk berat...
Tiga orang penerima Ritterkreuz terkemuka dari Fallschirmjäger, dari kiri ke kanan : General der Fallschirmtruppe Hermann Bernhard Ramcke, Generaloberst Kurt Student, dan Generalleutnant Hans Kroh
General der Fallschirmtruppe Hermann Bernhard Ramcke, anggota Fallschirmjäger yang menerima medali tertinggi : Brillanten. Dari hanya 27 orang penerima medali super bergengsi ini selama perang, Ramcke tercatat sebagai penerima ke-20, yang didapat ketika masih menjadi Generalleutnant dan komandan Benteng Brest tanggal 19 September 1944
Oleh : Alif Rafik Khan
Daftar di bawah adalah para peraih Ritterkreuz (Salib Ksatria/Knight’s Cross) dari Fallschirmjäger dari tahun 1939-1945 dengan total 133 orang. Sebelum didata lebih rinci, inilah sedikit trivia tentang mereka :
Tempat mereka mendapatkan Ritterkreuz :
1 orang mendapatkannya di Norwegia
21 orang mendapatkannya di Normandia
10 orang mendapatkannya di Belgia
13 orang mendapatkannya di Belanda
1 orang mendapatkannya di Corinthia
27 orang mendapatkannya di Kreta
4 orang mendapatkannya di Afrika
40 orang mendapatkannya di Italia
8 orang mendapatkannya di Front Timur
2 orang mendapatkannya di Ardennes
6 orang mendapatkannya di Jerman (akhir perang)
Dari 133 orang penerima Ritterkreuz :
69 orang juga dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold
6 orang mendapatkannya secara anumerta
20 orang penerimanya kemudian terbunuh dalam pertempuran
1 orang penerimanya dieksekusi setelah perang
3 orang penerimanya tewas dalam kecelakaan
3 orang penerimanya terbunuh karena lukanya di rumah sakit
1 orang penerimanya adalah juga seorang pilot
3 orang penerimanya adalah dokter di cabang medis
Daftar berdasarkan abjad di bawah terdiri dari nama penerima, pangkat terakhir yang disandangnya, tanggal lahir, tanggal penyerahan medali (termasuk segala “turunannya” : Eichenlaub, Schwertern, dan Brillanten), plus tanggal dan tempat meninggalnya.
Tak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk juga daftar di bawah. Beberapa orang akan menyebutkan bahwa ada nama lain yang harusnya masuk juga, orang-orang seperti Major Rudolf Berneike, Oberleutnant Robert Höfeld, Major Walter Kieß, Major Ingenhoven dan Oberst Friedrich Morzik, yang disebutkan di beberapa publikasi sebagai penerima Ritterkreuz dari Fallschirmjäger... tapi apakah begitu pada kenyataannya? Beberapa orang yang disebutkan di atas adalah pilot glider yang turut serta dalam operasi Fallschirmjäger, dan beberapa orang menerima Ritterkreuz ketika masih berada di cabang lain (meskipun di kemudian hari mereka bergabung dengan Fallschirmjäger).
A Major Herbert Karl Abratis Lahir 21 Maret 1918, RK tanggal 24 Oktober 1944, KIA dekat Stettin 29 Maret 1945 Major Heinz Paul Adolff Lahir 29 Juni 1914, RK tanggal 26 Maret 1944, KIA di Sisilia 17 Juli 1944 Major Gustav Altmann Lahir 13 April 1912, RK tanggal 12 Mei 1940, meninggal 20 Februari 1981 Oberfeldwebel Peter Arent Lahir 26 Juni 1917, RK anumerta tanggal 4 Desember 1942, KIA Tunisia 3 Desember 1942 Oberleutnant Helmut Arpke Lahir 3 Maret 1917, RK tanggal 16 Januari 1942, KIA di Front Timur 16 Januari 1942
B Major Josef Barmetler Lahir 11 Maret 1904, RK tanggal 9 Juli 1941, meninggal 20 Februari 1945 Oberst Karl Heinz Becker Lahir 2 Januari 1914, RK tanggal 9 Juli 1941, Eichenlaub 12 Maret 1945. Meninggal 3 Oktober 2000 di Jerman Major Erich Beine Lahir 26 Juni 1914, RK tanggal 18 November 1944 Oberleutnant Karl Berger Lahir 31 Oktober 1919, RK tanggal 7 Februari 1945 Major Herbert Christopher Karl Beyer Lahir 4 Agustus 1913, RK tanggal 9 Juni 1944, meninggal 4 September 1966 Oberst Ernst Blausteiner Lahir 16 Mei 1911, RK tanggal 29 Oktober 1944 Oberleutnant Graf Wolfgang von Blücher Lahir 31 Januari 1917, RK di Belanda 1940, KIA Kreta 21 Mei 1941 Hauptmann Rudolf Bohlein Lahir 4 Januari 1917, RK tanggal 30 November 1944 Oberst Rudolf Böhmler Lahir 12 Juni 1914, RK tanggal 26 Maret 1944, meninggal 24 November 1968 General Bruno Oswald Bräuer Lahir 4 Februari 1893, RK tanggal 24 Mei 1941, dieksekusi di Yunani 20 Mei 1947 Oberfeldwebel Manfred Büttner Lahir 15 Februari 1921, RK tanggal 29 April 1945
C Leutnant Georg le Coutre Lahir 13 September 1921, RK tanggal 7 Februari 1945
D Hauptmann Egon Delica Lahir 4 Januari 1915, RK tanggal 12 Mei 1940. Meninggal 26 April 1999 Oberleutnant Rudolf Donth
E OberstleutnantReinhard Karl Egger Lahir 11 Desember 1905, RK tanggal 9 Juli 1941, Eichenlaub 24 Juni 1944. Major Johann Engelhardt Lahir 11 Desember 1916, RK tanggal 29 Februari 1944. Generalleutnant Wolfgang Erdmann Lahir 13 November 1898, RK tanggal 8 Februari 1945, bunuh diri 5 September 1946 Major Werner Ewald Lahir on 23 Oktober 1914, RK tanggal 17 September 1944.
F Major Ferdinand Foltin Lahir 30 November 1916, RK tanggal 9 Juni 1944, masih hidup di Austria (2009) Leutnant Herbert Fries Lahir 1 Maret 1925, RK tanggal 5 September 1944. Major Ernst Fromming Lahir 4 Februari 1911, RK tanggal 18 November 1944. Meninggal 18 Agustus 1959 di Jerman Hauptmann WilhelmFulda Lahir 21 Mei 1909, RK tanggal 14 Juni 1941, meninggal 8 Agustus 1977 diHamburg
G Leutnant Robert Gast Lahir 28 Maret 1920, RK tanggal 6 Oktober 1944. Major Alfred Genz Lahir 8 Maret 1916, RK tanggal 14 Juni 1941.Meninggal 23 April 2000 di Jerman Oberst Walter Gericke Oberleutnant Ernst Germer Major Siegfried Josef Gerstner Oberleutnant Helmut Gustav Görtz Oberstleutnant Franz Grassmel Oberst Kurt Gröschke
H Hauptmann Andreas Hagl Major Reino Hamer Hauptmann Friedrich Hauber General Richard Heidrich Generalmajor Ludwig Heilmann Oberleutnant Erich Hellmann Oberst Harry Herrmann Major Maximillian Herzbach Oberstleutnant Baron Friedrich August von der Heydte Hauptmann Eduard George Hübner
J Oberleutnant Georg Rupert Jacob Oberarzt Dr. Rolf Karl Ernst Jäger Major Siegfried Jamrowsk
K Oberleutnant Wilhelm Kempke Hauptmann Horst Kerfin Major Helmut Kerutt Oberfeldwebel Karl Koch Oberstleutnant Walter Koch Hauptmann Willi Koch Major Rudolf Kratzert Hauptmann Heinz Krink Generalmajor Hans Kroh Oberleutnant Willy Kroymanns Major Martin Kühne Leutnant Kurt Kunkel Leutnant Rudolf Kurz
L Oberstabsarzt Dr. Carl Lamgemeyer Oberleutnant Erich Lepkowski Oberstleutnant Walter Paul Liebing
M Hauptmann Rolf Mager Oberleutnant Johannes Marscholek General Eugen Meindl Hauptmann Joachim Meissner Oberfeldwebel Otto Menges Major Gerhardt Mertens Major Heinz Meyer Major Dr. Werner Milch Hauptmann Gerd Mischke
N Oberleutnant Karl Neuhoff Oberstabarzt Dr. Heinrich Neumann
O Leutnant Heinrich Orth
P Major Gerhard Pade Major Hugo Paul Gefreiter Herbert Peitsch Oberst Erich Pietzonka Major Fritz Prager
R General Hermann Bernhard Ramcke Oberleutnant Siegfried Rammelt Major Ernst Willi Raprager Oberfeldwebel Adolf Reininghaus Major Paul-Ernst Renisch Oberstleutnant Rudolf Rennecke Hauptmann Helmut Ringler Major Arnold von Roon
S Oberleutnant Walter Sander Leutnant Bruno Sassen Major Gerhard Schacht Major Martin Schachter Generalleutnant Richard Schimpf Leutnant Horst Schimpke Oberstleutnant Gerhart Schirmer General Alfred Schlemm Major Herbert Schmidt Hauptmann Leonhard Schmidt Oberstleutnant Werner Herbert Schmidt Oberstleutnant Count Wolf Werner von der Schulenburg Generalmajor Karl-Lothar Schulz Oberleutnant Erich Schuster Major Alfred Schwaezmann Major Günther Sempert Oberleutnant Hubert Sniers Major Albert Stecken Major Edgar Stentzler Major Kurt Stephani KIA 20.8.1944 Hauptmann Günther Straehler-Pohl Generaloberst Kurt Student Generalleutnant Alfred Sturm
T Oberstleutnant Karl Stephan Tannert Major Hans Teusen Hauptmann Cord Tietjen Oberstleutnant Erich Timm Hauptmann Rudolf Toschka Hauptmann Horst Trebes Generalleutnant Heinrich Trettner Hauptmann Herbert Trotz
U Oberfeldwebel Alexander Uhlig
V Major Kurt Veth Oberleutnant Viktro Vitali
W Hauptmann Helmut Wagner Generalmajor Erich Walther Hauptmann Friedrich-Wilhelm Wangerin Oberleutnant Hans-Joachim Weck Oberfeldwebel Heinrich Welskop Leutnant Walter Werner Leutnant Karl-Hans Wittig Major Rudolf Witzig
Duduk kecapean setelah dapet giliran jaga. Panas wajar saja, kalo ngeliat bahan pakaiannya yang terbuat dari wool!
Berbagai pernak-pernik yang menjadi koleksi para anggota Indonesian Reenactor (IDR), di antaranya senapan KAR98 (airsoft), MG pouch, topi panzerwaffe dan SA, plus map pouch
Sekedar informasi, map pouch (tempat menyimpan peta) yang tergeletak di bawah topi panzerwaffe adalah ASLI peninggalan zaman Perang Dunia II dan terbuat dari kulit domba!
Kalo yang ini "butik" kecil-kecilan yang memajang seragam-seragam era Nazi Jerman. Yang seneng beginian pasti langsung ngiler!
Di belakang pasti tahu bendera apaan!
Yang ini perwira Fallschirmjäger bernama Okie von belekok!
Gaya beda orangnya sama...
Selain memamerkan kostum, ajang ICE juga jadi tempat jualan pernak-pernik Nazi, di antaranya pin, badge, Ritterkreuz, topi, seragam dan lain-lain. Liat aja pengunjung yang berminat, termasuk cewek yang cuman keliatan punggungnya ini!
Prajurit merangkap tukang warung! Hehehe...
Eh, apaan tuh yang dipegang orang di kiri? Awas ah meledug!
Hehehe... Pasti tahu dong yang ini siapa?
Seragam Brigadeführer dari Divisi Panzer SS ke-1 "Leibstandarte Adolf Hitler", persis seperti yang dipakai oleh Sepp Dietrich!
Yang ini seragam jenderal Heer. Sayang pangkat pundaknya nggak ditempelin jadi nggak ketahuan masuk kategori yang mana : Generalmajor, Generalleutnant, General, Generaloberst atau Generalfeldmarschall?
Beberapa di antara anggota IDR berfoto untuk majalah Ikan Lou Han. Dari kiri ke kanan : Alif Rafik Khan, Rana Judisthira, Andrid Pradityo, Kresna Noviarditya, Alfin Lana, Gama Bagus Kuntoadi, Felix Christanto dan Okie Rishananto
Hormaaat... Grak!
Data mengenai seragam yang dipake, dari kiri ke kanan : seragam tropis Deutsche Afrikakorps, SS-Unterscharführer, SS-Obergruppenführer, Major Heer, SS-Sturmmann, Hitlerjugend panzerwaffe, dan Hauptfeldwebel Luftwaffe
Bagi para penggemar Third Rich terutama seragamnya, ajang ICE ini bisa dijadikan ajang pamer kostum "kebanggaan" yang sayang kalau dilewatkan!
Kalau kebelet pengen "Jejermanan", bisa ikut gabung di Indonesian Reenactor disini
Großadmiral Karl Dönitz, panglima U-boat berotak brilian yang membuat Inggris begitu sengsara di awal-awal perang. Banyak yang berpendapat bahwa hukuman berat yang telah diterimanya di pengadilan Nürnberg adalah bukan karena kejahatan-kejahatan perang yang telah dilakukannya, melainkan semata karena dia telah begitu banyak menimbulkan kerugian bagi pelayaran Sekutu!
Ini adalah diagram U-486, salah satu dari sekian banyak U-boat Jerman bertipe VII-C
Awak U-boat sedang memasukkan sebuah torpedo ke dalam kapal selamnya. Pada awalnya, kualitas torpedo Jerman begitu buruknya sehingga beberapa U-boat tercatat tenggelam dikarenakan torpedo sendiri, salah satunya adalah U-47 yang terkenal di bawah komandan Günther Prien
Sebuah tanker terbakar dengan hebat sebelum tenggelam di pantai Amerika dalam periode yang disebut sebagai "The second happy time"
U-boat sedang berangkat menuju tugas patrolinya. Di sebelah kanan adalah kapal penjaga pantai Jerman
Salah satu yang paling membahagiakan bagi para awak U-boat di lautan (selain dari menghancurkan kapal musuh) adalah ketika mereka bertemu dengan rekan seperjuangannya di U-boat lain.
U-47 dielu-elukan oleh para penonton ketika tiba di pelabuhan Jerman tak lama setelah secara menggemparkan berhasil menenggelamkan kapal perang Inggris di pangkalannya sendiri. Sang komandan yang bermental baja, Günther Prien, berada di menara pengawas
Karl Dönitz bersama dengan Korvettenkapitän Adalbert Schnee (kiri) dan Konteradmiral Eberhard Godt, dua orang staffnya yang paling terpercaya, sedang merundingkan strategi di markas besar U-boat di Prancis
Kapten U-boat terbesar dalam Perang Dunia II, Fregattenkapitän Otto Kretschmer, sedang berunding dengan para perwiranya di U-99
Perangko Jerman yang memperlihatkan gambar U-boat dan korbannya
“Satu-satunya hal yang paling menakutkanku dalam perang ini adalah ancaman u-boat!” – Winston Churchill
Oleh : Alif Rafik Khan
Ketika Perang Dunia II bermula, Inggris melihat bahwa ancaman terbesar Jerman bagi rute perdagangan lautnya adalah kapal-kapal perangnya, sama seperti Hitler yang juga berpendapat begitu. Diperkirakan bahwa kapal-kapal perang Jerman yang baru dibangun akan menyerang armada dagang yang keluar-masuk daratan Inggris, dimana Inggris sangat tergantung darinya dalam hal persediaan makanan, sebagian besar dari bahan mentah untuk pembuatan mesin-mesin perangnya, dan juga minyak. Bila masih ada yang tersisa dari sergapan kapal-kapal perang ini, maka akan dibereskan oleh u-boat yang beroperasi di perairan pantai. Yang terjadi kemudian membuktikan bahwa pandangan ini sepenuhnya salah, karena ancaman terbesar bagi Inggris dari laut bukanlah terletak pada kapal perang Jerman, melainkan justru u-boat yang sebelumnya dianggap remeh!
Setidaknya satu orang tahu akan hal ini : Admiral Karl Dönitz, panglima armada U-boat. Dia dapat juga salah bila saja Hitler mampu menunda perang dengan Inggris sampai semua kapal perang yang diperuntukkan bagi Angkatan Lautnya selesai dibangun. Yang jelas, Dönitz mempunyai keyakinan tak tergoyahkan bahwa dengan kapal selam yang cukup, maka dia akan memenangkan peperangan di lautan, sesuatu yang pernah dia buktikan sendiri sebagai seorang komandan U-boat 29 tahun sebelumnya.
“Pada bulan Oktober 1918, aku adalah seorang kapten kapal selam di Mediterania, dekat Malta. Di satu malam aku bertemu dengan konvoy Inggris yang dikawal oleh kapal-kapal perusak dan penjelajah. Aku menyerang dan menenggelamkan sebuah kapal. Saat itu aku sadar bahwa kemungkinan untuk menenggelamkan lebih banyak kapal akan terbuka bila saja ada lebih banyak u-boat. Disitulah ide Wolf Pack muncul, untuk mengumpulkan kapal selam bersama-sama, dan menyerang bersama-sama pula. Di rentang tahun 1918 sampai dengan 1935, ketika kita diizinkan mempunyai kapal selam kembali, aku tidak pernah melupakan gagasan ini.” – Karl Dönitz.
Di bawah air, para U-boat era 1939 itu bergerak lambat bagaikan keong, sementara di permukaan maka kecepatannya mampu menyaingi konvoy kapal dagang manapun. Dengan siluet rendahnya maka keberadaannya tak gampang terdeteksi, terutama di malam hari, sementara musuhnya dapat dengan jelas terlihat hanya dengan mengandalkan periskop yang dinongolkan sedikit di permukaan laut. Dan jangan lupakan pula radio! Dengan ini, para U-boat ini bisa ‘janjian’ bertemu untuk selanjutnya menyerang secara berkelompok. Dönitz tahu bahwa Inggris akan mencoba untuk melindungi jalur perdagangan Atlantiknya yang sangat penting dengan menerapkan sistem konvoy yang dikawal oleh kapal perang. Untuk menghancurleburkan sistem ini dan kemudian memenangkan perang, Dönitz memperkirakan bahwa sedikitnya dia butuh 300 buah kapal selam. Lalu apa yang ada dalam tangannya ketika perang pecah? hanya ada 27 U-boat yang operasional, itupun harus melalui perjalanan yang berbahaya dari pangkalan menuju ke sasarannya! Untung saja, ketika Prancis jatuh, Dönitz mendapatkan pangkalan-pangkalan baru yang lebih dekat lagi ke jalur pelayaran.
Dalam kenyataannya, ketika dalam perjalanan ke Lorient tak lama setelah kejatuhan Prancis, Karl Dönitz dan ajudannya bertemu dengan dua orang pengungsi yang bergerak ke arah barat. Dia memberi tumpangan pada kedua orang tersebut, yang ternyata kemudian diketahui adalah orang Yahudi Jerman yang berusaha menyelamatkan diri dari negaranya! Ketika menurunkan mereka di tempat yang dituju di Le Mans, Dönitz menitip pesan, “sampaikan salam saya pada Inggris!”
Setelah pangkalan-pangkalan ini selesai dibangun, maka para Serigala Lautan (Sea Wolves) ini akan kembali dari patroli yang mereka jalani sebagai pahlawan. Salah satu yang paling spesial pake telor adalah Otto Kretschmer, yang secara keseluruhan telah menenggelamkan 46 kapal dengan total tonase 274.333 ton! Di bulan Oktober 1940 dia bergabung dengan sistem Wolf Pack pertama yang sebenarnya, dan merupakan pengejawantahan dari impian Dönitz selama berpuluh-puluh tahun.
“Aku ingat bahwa ada sinyal yang memberitakan tentang adanya konvoy yang datang dari Amerika menuju Inggris, meskipun posisinya saat itu belum diketahui. Dönitz memerintahkan setiap kapal selam untuk bergerak ke barat Irlandia demi melakukan semacam garis pengintaian dan membiarkan konvoy tersebut lewat untuk sementara dan masuk ke jalur tembakannya. Ketika satu kapal selam kemudian dipergoki, konvoy tersebut langsung memberikan sinyal tanda bahaya ke kapal lainnya. Disinilah jalur kapal selam kami berpencar untuk kemudian menyerang sendiri-sendiri secara bebas.” – Otto Kretschmer.
Großadmiral Erich Raeder memperlihatkan kepercayaan penuh kepada Führernya ketika dia memberi instruksi pada para kru U-boat dalam sebuah latihan senjata di musim panas 1939. Raeder meyakinkan bahwa sang Führer telah berjanji kepadanya bahwa tak akan ada perang dalam keadaan apapun dengan Inggris, karena itu akan berarti “Finis Germaniae”. Sementara Dönitz, yang selalu terbuka pada anak buah yang sangat dicintainya, menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini maka dia tidak akan mempercayai janji pemimpinnya sendiri, dan sebagai seorang komandan dia harus selalu bersiap-siap untuk menghadapi keadaan seperti apapun. Yang dapat dia lakukan hanyalah mengulangi permintaannya untuk disediakan 300 buah U-boat, karena junlah inilah yang akan secara efektif menutup jalur perdagangan laut Inggris, dan melumpuhkannya secara ekonomi. Dalam waktu hanya 6 minggu, yang tak terbayangkan itu terjadi. Polandia diinvasi dan 2 hari kemudian Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman. Dönitz tak pernah menyembunyikan prediksinya bahwa tak lama Jerman akan terlibat perang kembali, tapi tetap saja berita ini memukulnya bagaikan palu godam. Propaganda Goebbels dengan gencar memberitakan bahwa Jerman telah dipaksa masuk ke dalam perang yang tak pernah diinginkannya. Dönitz lebih memikirkan hal lain yang lebih serius : Kriegsmarine belum siap untuk menghadapi perang ini. Inggris dan Prancis mempunyai kapal perang 10 kali lebih banyak dari Jerman, sehingga Dönitz tak melihat ada jalan bagaimana Kriegsmarine dapat memenangkan perang di lautan dengan kekuatan pas-pasan yang dipunyainya saat itu. Situasinya sendiri, di matanya, adalah sangat genting. Semua 3000 orang anggota U-boat adalah orang-orang yang sangat terlatih, tapi mereka hanya mempunyai 57 kapal selam, bahkan itupun kebanyakan hanya “bebek-bebek” yang berbobot 250 ton, dan diperuntukkan di operasi pantai saja. Hanya 27 kapal yang mampu untuk melakukan penyergapan di samudera Atlantik.
Mereka kebanyakan berlayar dari pangkalan-pangkalan di Baltik dan Laut Utara, dengan kru-kru yang bersemangat tinggi tapi hanya mempunyai sedikit pengalaman. Dalam 18 bulan pertama aktivitas U-boat dalam mengganggu jalur suplai Inggris hanyalah kecil saja, bahkan ketika Jerman menginvasi Norwegia di bulan April 1940, tak ada satupun U-boat yang wara-wiri di Atlantik! Musim panas 1940 Prancis jatuh ke tangan Jerman dan pasukan U-boat dapat menggunakan pangkalan baru di Bay of Biscay.
Kapal-kapal perusak Inggris sangat mengandalkan ASDIC dalam menanggulangi serangan U-boat. ASDIC ini dapat berguna dalam mengetahui jarak dan keberadaan U-boat dengan mendeteksi suara yang muncul. Minimnya pengawalan dari konvoy-konvoy yang lalu lalang dapat berarti bahwa para U-boat dapat menyerang musuh mereka secara bebas. Hal ini terjadi karena Inggris terlalu mengandalkan pada ASDIC, yang terbukti hanya dapat bekerja pada kondisi ideal, sesuatu yang justru kebalikannya di samudera Atlantik! Ini seringkali membuat para pengawal yang sedikit itu dapat dengan santainya berlayar menjelajahi lautan sementara U-boat Jerman berada di bawah mereka tanpa terdeteksi. Saat itu belum ada taktik resmi Royal Navy berkaitan dengan cara konvoy yang baik dan benar atau bagaimana cara menanggulangi serangan terhadap konvoy. Yang terjadi adalah, bila kemudian kapal-kapal itu mendapat serangan, maka mereka akan berpencaran ke berbagai arah dengan kecepatan penuh tanpa tujuan, sehingga Yang repot adalah kapal pengawal yang harus mengumpulkan mereka kembali sesudahnya! Para kapten kapal dagang itu bukanlah orang-orang militer yang mempunyai disiplin tinggi, dan kadang-kadang mereka tidak mematuhi instruksi yang dirasa “konyol” seperti harus memadamkan lampu ketika berada di malam hari. Sebuah kapal barang Yunani dari Konvoy SC7 diketahui “bersinar terang gemerlap” di buritannya tak lama setelah serangan U-boat. Untungnya, yang memergokinya adalah kapal pengawal (dan bukan U-boat) yang bertugas mengumpulkan kembali konvoy bagaikan induk bebek mengumpulkan anak-anaknya yang berpencaran!
Tujuan resmi dari Nasional-Sosialisme “untuk melayani masyarakat dan melakukan apapun yang kamu bisa untuk memperbaiki kehidupan mereka” juga direfleksikan dalam tatacara yang terjadi di dalam kapal selam. Sang komandan mempunyai tanggung jawab penuh akan apapun yang terjadi di kapal yang dipimpinnya, dan biasanya dia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan 50 orang anak buahnya. Setiap orang mengenal dengan baik masing-masing temannya, dan setiap orang tahu pula tugas apa yang harus dilakukannya.
Jenis kapal selam favorit Dönitz untuk tugas penyerangan adalah U-boat tipe 7, yang berbeda hanya sedikit saja dengan pendahulunya di Perang Dunia Pertama. U-boat ini ditenagai oleh 2 buah mesin diesel besar yang mampu mendorong kapal dengan kecepatan maksimal 17 knot. Cerobong udara untuk membuang asap mesin berasal dari pipa yang berada di menara pengawas untuk menjamin jarak maksimumnya dari lautan. Biasanya, U-boat menghabiskan 90% dari masa patrolinya dengan berada di permukaan. Ketika perintah menyelam itu datang, maka mesin akan dimatikan, digantikan dengan tenaga dari baterai kapal. Di dalam lautan, sebuah U-boat hanya mampu merayap dengan kecepatan 7 knot saja, dan ini pun hanya berlaku untuk 1 jam. Untuk kecepatan 2 knot, maka U-boat dapat bertahan nyungseb di laut maksimal 36 jam, setelahnya maka mau tidak mau kapal selam itu harus muncul kembali di permukaan demi mengisi ulang udara dan baterai. Di atas air, sebuah U-boat biasanya mempunyai kecepatan yang cukup untuk memberantakkan konvoy yang bergerak lambat, tapi di bawah air maka yang ada adalah hampir kemustahilan. Disini pula U-boat itu bagaikan orang buta yang mengandalkan melulu pada peralatan sonar. Masih kurang jelas? Biar Jürgen Oesten (komandan U-61 di musim panas 1940) yang baceo : “Semua U-boat yang kita punyai selama perang pada dasarnya adalah kapal permukaan yang mempunyai kemampuan untuk menyelam. Dari 20 kapal yang aku tenggelamkan, 19 di antaranya ditenggelamkan di permukaan. Di malam hari, bila jarak antara kapalmu dan target lebih dekat dari 3000 sampai 4000 meter, maka menara pengawaskami hampir-hampir tidak terlihat dari anjungan kapal dagang musuh (tidak tampak di atas horizon). Kau hanya menampakkan siluet kecil saja di mata targetmu!”
Di tahun 1935 para laksamana Inggris telah hafal luar dalam jumlah baut dan mur dalam sebuah U-boat Jerman, tapi hampir-hampir blank tentang taktiknya itu sendiri! Ini adalah suatu hal yang mengejutkan bila kita tahu bahwa pada tahun 1939 Dönitz telah menerbitkan sebuah buku, Die U-Bootswaffe, yang terang-terangan bercerita tentang metode dan taktik berperang U-boat yang diketahuinya berdasarkan pengalaman pada Perang Dunia I ditambah dengan hasil inovasinya sendiri. Salah satunya adalah betapa Dönitz sangat menyarankan serangan yang dilakukan pada malam hari, dan bagaimana dia telah melatih para awak U-boat secara seksama dalam hal ini.
Biasanya sebuah U-boat dengan panjang 220 kaki diisi oleh 43 orang awak kapal dengan usia yang segar-segarnya dan kondisi badan yang prima (rata-rata usia awak U-boat adalah 20-23 tahun, sementara komandannya berusia 28 tahun). Hampir semua kru hidup di kompartemen yang berada di haluan, yang sekaligus menjadi gudang senjata utama. Sebagai senjatanya, tersedia 4 buah tabung dengan cadangan 10 buah torpedo. 2 torpedo lain bisa pula dilepaskan dari buritan dan 2 lagi dibawa dalam kontainer bebas-tekanan di dek atas. Bisa dibilang bahwa kehidupan di dalam kapal selam semakin menyenangkan dengan dilepaskannya setiap torpedo yang memenuhi ruangan!
Para kru berbagi ruangan tidur dengan kru lain di seberangnya, dan setiap orang bergantian menempati ‘ranjang’ yang baru saja ditinggalkan temannya yang kena giliran jaga. Di sebelah setiap ranjang terdapat sebuah loker kecil tempat menyimpan barang-barang pribadi awak kapal. Disini mereka tidak membutuhkan baju bersih, pisau cukur atau sabun mandi, dan setelah beberapa hari meninggalkan pangkalan, penampilan para manusia ini berubah drastis, seperti tanda-tanda kehidupan tanpa sinar matahari. Muka putih seperti kuntilanak, janggut mulai tumbuh, dan lingkaran hitam nongol di sekitar mata. Tak lama pakaian sudah berbau mesin diesel dan bercampur air asin. Air tawar begitu berharga dan hanya digunakan untuk minum saja, dan meskipun selalu ada kesempatan mencuci baju menggunakan air laut, tapi hal ini hampir tidak pernah dilakukan. Memang ada 2 toilet yang tersedia di dalam kapal, tapi satu dipenuhi oleh persediaan makanan, dan satunya lagi digunakan secara bergantian oleh 40 orang lebih! Bau di dalam kapal tak usah dibayangkan lagi, dari bau mesin diesel, ditambah bau makanan yang ditingkahi bau keringat awak kapal yang tidak mandi berminggu-minggu. Campurkan ini semua dan anda mendapatkan bau khas yang hanya ada di dalam sebuah U-boat! Beberapa kru yang masih berpikiran waras biasanya memakai Cologne 4711 untuk mengurangi dan melindungi dari bau yang menyengat, tapi biasanya para awak U-boat lain sudah pasrah saja menerima keadaan ini.
Di bagian bawah kompartemen haluan adalah tempat para perwira. Setidaknya kehidupan tidak terlalu parah bagi 9 orang yang makan dan tidur disini. Kapten kapal mempunyai ruangan tersendiri yang dilengkapi dengan tempat untuk menulis di sebelah ruangan radio. Para perwira makan di sebuah meja kecil yang terletak di perlintasan, dan biasanya acara makan terganggu oleh lalu-lintas para awak dari dan ke kompartemen haluan. Di jantung kapal selam tersebut terdapat ruang kontrol, yang dipenuhi oleh berbagai macam peralatan, katup, tombol-tombol, dan pengukur tekanan. Disinilah terletak “markas besar” tempat mengarahkan setiap aksi yang kemudian terjadi. Disini terdapat pengukur tangki pemberat, dan pengukur penyelaman. Salah satu dari 2 buah periskop U-boat dioperasikan dari sini, sementara satunya lagi, yang lebih panjang dan digunakan untuk menyerang kapal musuh, ditempatkan di menara pemgawas di atasnya. Selanjutnya adalah kompartemen para perwira rendahan dan dapur mini. “Senjata” sang koki adalah 3 buah kompor, 2 buah oven kecil dan 40 buah panci untuk merebus. Kalau anda mengira bahwa makanan yang disediakan disini pastinya berkualitas ancur-ancuran, maka anda salah besar, karena biasanya makanan yang ada disajikan dengan profesional sehingga rasanya bisa dipertanggungjawabkan. Kenapa? Karena soal rasa ini berpengaruh kepada semangat para awak kapal. Bayangkan saja, sudah capek-capek bekerja di tempat yang sempit, bau neraka, penuh resiko, jauh dari keluarga, dan ketika makan pun disuguhi dengan babadotan! Tentu saja persediaan makanan yang ada di U-boat tidak akan bertahan lama, karena selalu ada tetesan air dari mana-mana, rembesan katup dan sisa kondensasi. Di mana-mana yang ada adalah kelembaban dan akibatnya, tak lama makanan sudah dilapisi oleh jamur-jamur berwarna hijau. Mungkin saja kalau awak U-boatnya orang Indonesia mereka tinggal bawa tempe atau tape singkong saja maka tidak akan jadi masalah, tapi ini orang bule, Bung! Dan biasanya setelah makanan yang segar-segar habis atau dibuang karena jamuran, maka para awak kapal harus menerima hari-harinya disi dengan memakan makanan kalengan.
Di sebelah dapur adalah ruangan mesin yang dapat dikenali dari suara mesin dieselnya yang berbunyi tanpa henti. Yang terakhir adalah kompartemen elektrik dengan motor berkekuatan 375 tenaga kuda. Di sebagian besar waktu patroli, 4 orang petugas bergantian menerawang kejauhan di menara pengawas. Tapi kondisi tak selamanya bersahabat, seperti yang dijelaskan oleh Horst Elfe, perwira kedua di U-99 : “Kami harus bertahan menghadapi badai Atlantik yang setiap saat melanda. Tak ada yang lebih buruk dari ini, karena kapal hampir mustahil dikendalikan di kedalaman periskop dengan cuaca seperti tersebut, kecuali bila berada di atas air. Serangan permukaan tak pernah terpikirkan oleh kami karena tak seorangpun bisa melihat, bergerak, membidik atau yang lainnya. Yang kami pikirkan saat itu hanyalah keselamatan diri kami sendiri.”
Admiral Sir Andrew Cunningham menginsyafi bahwa meskipun hanya butuh waktu 3 tahun untuk membangun sebuah kapal, tapi butuh waktu 300 tahun untuk membangun sebuah tradisi. Kehilangan pertama Inggris di lautan, terutama Kapal Perang Royal Oak di pangkalannya sendiri, memberi pukulan yang menggoncangkan bagi publik, meskipun kepercayaan bahwa pada akhirnya Inggris tetap menang masih menjadi suatu kepercayaan yang umum. Pada mulanya kepanikan Royal Navy begitu terasa ketika mereka menghantam setiap apapun yang terlihat bergerak di lautan. Laporan-laporan tentang kemunculan U-boat bermunculan dimana-mana. Seorang pengintai di Mercusuar Isle of Man bahkan mengklaim telah melihat sebuah periskop dari jarak 6 mil! Ini jelas-jelas suatu kebullshitan, karena jangankan di hari yang berkabut, di hari terang pun adalah suatu keberuntungan bila seorang observer mampu melihat periskop nongol dari jarak 1000 yard! Dan laporan seperti ini begitu ditanggapi dengan seriusnya oleh Royal Navy sehingga mereka buru-buru mengirimkan kapal perang terpilih HMS Walker dari Liverpool demi melayani U-boat yang ternyata tidak pernah menampakkan batang hidung eh periskopnya! Bahkan kalaupun U-boat itu benar-benar ada, maka dengan kecepatan HMS Walker yang mencapai 25 knot, paling cepat kapal tersebut bisa tiba di lokasi adalah dalam waktu 2 jam, dan dalam waktu segitu sudah tentu sang U-boat buruan dapat berada di mana saja dalam radius 10 mil, radius yang sungguh di luar jangkauan bila membayangkan bahwa HMS Walker hanya sendirian saja dan dipersenjatai oleh ASDIC yang hanya dapat efektif dalam jarak 2000 yard!
Ada masalah lain : konvoy mendapat pengawalan tidak sampai ke tujuannya, melainkan dari Inggris sampai ke 300 mil sebelah barat Irlandia saja. Hal ini wajar belaka, karena kalau semua konvoy mendapat pengawalan sampai ke tujuannya, maka tidak akan ada lagi kapal perang yang tersisa untuk keperluan lainnya! Bagi Jerman tentu saja ini adalah suatu rezeki nongtot, karena seluruh samudera Atlantik berada dalam jangkauan U-boat-U-boat yang kelaparan. Dari bulan Juli sampai dengan Oktober 1940, tercatat 144 buah kapal dagang yang tak mendapat pengawalan ditenggelamkan, sementara 73 kapal dagang yang mendapat pengawalan pun tidak luput berhasil ditenggelamkan pula oleh Grup kapal selam Jerman. Para komandan U-boat telah menemukan kelemahan dalam sistem ASDIC, kelemahan yang fatal : benda ini tidak dapat mendeteksi kapal selam yang berada di permukaan! Di lain pihak, Dönitz mengembangkan sistem penyerangan Wolf Pack, dimana beberapa U-boat beroperasi bersama-sama dalam menyerang suatu konvoy. Di malam tanggal 21 September 1940, konvoy berkecepatan tinggi HX72 yang terdiri dari 41 kapal dagang, diserang oleh Wolf Pack dan akibatnya 11 kapal menjadi korban. Di kemudian waktu komodor konvoy tersebut begitu yakin bahwa setidaknya 2 U-boat terlibat dalam penyerangan ini, dan pendapatnya diamini oleh perwira kapal pengawal. Mulai timbul kecurigaan di kalangan laksamana Inggris bahwa para U-boat sialan itu telah mulai mengkoordinasikan serangan mereka. Hal ini adalah sesuatu yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya, dan bahkan tidak dipercayai oleh suara-suara berpengaruh di intelijen Angkatan Laut (sudah tentu orang-orang ini adalah orang-orang “ortodok keras kepala” yang sama yang berpendapat bahwa dalam pertempuran laut tidak dibutuhkan bantuan kapal terbang!). Bila peristiwa ini tidak berhasil meyakinkan para petinggi Royal Navy bahwa itulah sebenarnya yang terjadi, maka peristiwa berikut ini seakan menjadi pembenaran yang tak terbantahkan : konvoy berkecepatan ringan SC7 berangkat dari pelabuhan Sydney di Kanada di minggu pertama Oktober 1940, dan terdiri dari berbagai macam kapal, dari yang bertonase berat sampai kapal ukuran kecil. Konvoy ini tidak pernah berkecepatan lebih dari 8 knot, dan bahkan dengan kecepatan itu pun, sebagian besar dari 35 kapalnya sampai ngos-ngosan berusaha keras! Yang paling tua adalah tanker Norwegia ‘Thoroy’ yang sudah 47 tahun berkelana di lautan. Kebanyakan kapalnya telah menghabiskan 2 minggu sebelumnya di berbagai pelabuhan demi menurunkan muatan, dan yang lainnya telah mengarungi jalur laut St Lawrence demi sampai kesini. SS Fiscus dipenuhi oleh 5 ton muatan batang baja, sehingga pantaslah kalau kapal ini dinamakan sebagai batako mengapung! Frank Holding, seorang Liverpudlian, telah jujur mengaku bahwa dengan membawa kapal-kapal semacam SS Fiscus dan Thoroy, maka “anda tak akan punya kesempatan untuk selamat”. Sekali kapal semacam itu tersentuh torpedo, maka sudah pasti dia akan langsung tenggelam ke lautan bagaikan batu. Dia mengaku bahwa dia termasuk orang yang beruntung karena berada di SS Beatus, “kapal uap tua lambat yang kotor, yang punya bau campuran oli dan gula, yang punya koki orang Cina sementara ruangan mesinnya dipenuhi oleh orang India, jadi hanya aku dan seorang lagi yang asli dari Liverpool!” sebagai asisten pelayan, kehidupan di kapal dirasanya sedikit lebih baik dari yang lainnya. “Kami punya hak-hak khusus di ruangan mesin dan dek yang selalu ramai, sementara mereka berdesak-desakan di bagian muka kapal, mungkin 8 sampai 10 ranjang dalam satu ruangan. Aku sendiri berada satu ruangan dengan hanya 1 orang lagi : koki Cina itu!”
“Kami selalu dikasih tahu bahwa, bila kapal kami ditenggelamkan oleh U-boat, maka mereka akan membiarkan kami dan hanya membawa kapten dan insinyur saja sebagai tawanan. Kami sangat takut bila mereka menembaki kami dengan senapan mesin. Dua orang teman, Eddie dan Billy Howard, pernah melihat kejadian seperti ini di Three Rivers, dan sekarang mereka berada di Creekirk, yang dipenuhi oleh bijih besi. Tanggal 5 Oktober SC7 bersiap-siap dan mulai berangkat ke arah lautan. Dalam brifing sebelum berlayar, beberapa perwira dari Royal Navy ngomel-ngomel tentang “kapten-kapten kapal keras kepala” yang berpendapat bahwa mereka lebih baik pergi tanpa mendapat pengawalan. Di 11 hari pertama, hanya satu sekoci pengawal saja yang mengiringi kami. Kami bisa berharap mendapat pengawalan penuh bila sudah mendekati tujuan kami. Beberapa kapal telah diperlengkapi dengan senjata 4 inci di buritannya, meskipun para pelautnya sendiri menganggap bahwa senjata-senjata tersebut lebih sebagai pajangan saja. Tak lama setelah tengah hari, kapal pertama mengangkat jangkar dan mulai berangkat, dan dibutuhkan seluruh sisa hari itu hanya untuk mengumpulkan semua kapal dalam posisinya. Sembilan lajur dengan tiga atau empat kapal di setiap lajurnya. Bagi para awak kapal dagang yang biasa berlayar dengan bebas di kaki langit yang kosong, hanya untuk tetap di lajur saja sudah merupakan suatu hal yang sulitnya minta ampun. Empat hari di lautan dan SC7 sudah menghadapi cuaca buruk, yang memaksa beberapa kapal keluar dari barisannya. Salah satu dari kapal terbesar, Empire Miniver berbobot 6000 ton, terkena masalah pada turbin. Kapten Robert Smith melapor kepada pangkalannya bahwa ‘ketika kami sedang mengamati kegelapan yang tampak di depan mata, tiba-tiba saja kami melihat sinar terang di haluan kapal. Dengan terkejut kami mendapati bahwa itu adalah sebuah kapal uap Yunani, yang bisa kami lihat dengan jelas bahkan dari jarak 6 mil jauhnya!” begitu ‘seksamanya’ pedoman berlayar di kala perang bagi konvoy ini!”
Di jam-jam awal tanggal 16 Oktober, salah satu kapal yang keluar barisan membunyikan peringatan secara berulang-ulang, serangan U-boat! Satu-satunya pengawal konvoy, HMS Scarborough, tak dapat berbuat apa-apa. Kargo dan krunya hilang ditelan lautan. Semangat muncul ketika di kaki langit datang dua buah kapal pengawal (HMS Fowey dan HMS Bluebell) yang datang dari Liverpool, tapi tetap tak ada rencana untuk mengkoordinasikan aksi dalam menghadapi serangan ini. Di akhir malam itu, pengawas di U-48 menangkap siluet kapal di cahaya bulan. Ketika U-boat itu mendekat, dengan jelas tampak bahwa itu adalah sebuah konvoy, berukuran besar dan lemah! Tak lama Lorient telah menerima transmisi radio yang memberitahukan lokasi dan kecepatannya. Sebuah grup yang terdiri dari 5 U-boat diperintahkan untuk menemukan, mendekat, dan menyerang. U-48 maju pertama kali, tanpa perlu capek-capek menunggu yang lain datang, dan tak lama menemukan mangsanya yang terbesar, tanker Languedoc berukuran 9500 ton. Torpedo pertama menghantam bagian sampingnya dan BELEDUG! 2 menit kemudian ledakan kedua datang dari kapal barang Scoresby, BELEDUG!
Karena tak berpengalaman, kapal pengawal ini malahan memutuskan untuk mengambil orang-orang yang selamat dari kapal yang tenggelam dan bukannya memburu si pembuat masalah. Akibatnya, konvoy itu tak terjaga lagi. Di sore selanjutnya U-boat lain merusakkan satu kapal. Ketika malam turun tanggal 18 Oktober, 3 buah pengawal “menggembalakan” 31 anggota konvoy yang masih tersisa. Kalau mereka kira bahwa kini bahaya telah berakhir, maka mereka salah besar! Tepat di kaki langit menunggu dengan tenang 6 buah U-boat yang bersejajaran dengan jalur konvoy tersebut. Salah satu dari kapal selam ini adalah U-100 yang dikomandani oleh Joachim Schepke dan U-99 dengan komandannya Otto Kretschmer. Dua-duanya kemudian akan dicatat dengan tinta emas sejarah sebagai dua orang jagoan kapal selam yang paling disegani dalam Perang Dunia II.
Tak lama sebelum tengah malam mereka menyerang! Dimana-mana kapal-kapal meledak, terbakar dan tenggelam. Benar-benar suatu kekacauan yang luar biasa. Para pengawal itu tak dapat melakukan apa-apa selain menolong orang-orang yang selamat. ASDIC yang mereka bawa tidaklah berguna sama sekali, sementara teknologi radar masih ala kadarnya. Hasilnya adalah, dari 35 kapal yang berangkat dari pelabuhan keberangkatan, hanya 12 buah yang sampai dengan selamat! Dan ini pun bukan karena gerombolan U-boat itu kehabisan torpedo, melainkan karena Otto Kretschmer yang menerima berita bahwa ada konvoy lain (HX79) yang ikut terdeteksi dan berada dalam jangkauan mereka. U-boat-U-boat itu memutuskan untuk “berpesta” di konvoy yang kedua, dan menenggelamkan 12 kapal plus merusakkan 2 dari 49 kapal anggota konvoy HX79!
Salah satu dari jagoan U-boat yang paling terkenal adalah Erich Topp, komandan kapal U-552 yang dikenal sebagai “Setan Merah”. di tahun 1936 dia telah bertugas di penjelajah Karlsruhe. Hubungan pribadi yang kemudian terjalin dengan Admiral Dönitz membuat dia memutuskan untuk mendaftar secara sukarela di unit U-boat. Di tahun 1937 dia melaporkan diri pada Sekolah Pelatihan Neustadt. Perkenalan pertamanya dengan U-boat berujung dengan kekecewaan, ketika dia mendapati “bau” U-boat yang khas dan kelembaban konstan yang terdapat di dalamnya. Pada akhirnya dia mampu untuk membiasakan diri dan malah menganggap U-boat sebagai rumah utamanya.
Kebanyakan dari kapal penjaga konvoy di awal-awal perang adalah perusak tua sisa-sisa Perang Dunia I, kapal sekoci kecil dan korvet, yang tidak mumpuni bila diharuskan menjalani tugas baru sebagai pemburu kapal selam. U-boat Kretschmer, U-99, dengan menggunakan strategi penyerangan malam (yang sudah jelas-jelas disebutkan dalam bukunya Karl Dönitz Die U-Bootswaffe, tapi yang kopinya tak satupun dipunyai oleh intelijen Inggris!) berhasil menenggelamkan 9 dari 17 kapal yang berasal dari konvoy SC7. tentu saja ASDIC tak dapat mendeteksi kapal selam yang berada DI ATAS permukaan. Bisa dikatakan bahwa kerugian luar biasa besar yang diderita oleh pelayaran Sekutu selama tahun-tahun pertama perang benar-benar di luar perkiraan bila melihat jumlah U-boat yang operasional, tak lebih dari 12 buah yang ada di lautan dalam saat yang sama, itu pun sangat jarang terjadi! Setelah perang Inggris baru tahu bahwa sebenarnyalah Jerman telah mengetahui kode yang biasa digunakan oleh radio konvoy. Biasanya, U-boat “dituntun” ke arah buruannya oleh pesawat Condor dari Luftwaffe. Condor itu sendiri, yang merupakan bomber pengintai jarak jauh, bertugas untuk melaporkan pergerakan kapal yang terdeteksi sedang berada di laut, dan bahkan ikut menenggelamkan beberapa di antaranya!
U-boat ini bukannya tidak punya masalah sendiri, dan salah satunya adalah torpedo yang bermutu pas-pasan. Sebagai contohnya adalah U-23 yang dikomandani Oleh Kretschmer (sebelum dia dilempar ke U-99) yang pada tahun 1939 butuh 3 buah torpedo hanya untuk menenggelamkan sebuah kapal barang kecil di Laut Utara. Dengan tersisa 1 buah torpedo, Kretschmer memutuskan untuk “nganjang” ke Perairan Orkney di dekat Kirkwall. Di pelabuhan bersandar sebuah tanker berbobot 10.500 ton dari negara netral bernama Danmark (bodo banget kalo nggak tahu asal tanker ini!). para awak U-boat itu dapat dengan jelas melihat beberapa orang di dek sedang bersantai melepus-lepuskan rokok, di sebuah kapal yang secara ceroboh tidak memasang pertahanan di sekeliling dirinya. Srrrrrrr... BELEDUG! Ketika torpedo itu menemukan sasarannya, semua mata yang berada di pelabuhan malahan mendongak ke langit, menyangka bahwa yang ada adalah serangan dari Luftwaffe! Tak ada satupun yang mengira bahwa akan ada kapal selam sialan yang mencoba menerobos masuk. Dengan santai U-23 berlayar ke kanan dan melewati pos penjagaan, menyelinap kembali ke lautan bebas sementara semua senjata di arahkan ke udara! Tenggelamnya Danmark ini menandai babak baru peperangan. Dia telah mengibarkan bendera negara netral. Pada bulan Januari 1940 itu, Prize Regulations governing Conduct of Nations at War at Sea telah dilanggar secara sengaja. Untuk sedikit menyamarkan pelanggaran yang dilakukan oleh Kretschmer, Dönitz memerintahkan U-boatnya untuk memilih sasaran mereka secara hati-hati dan seksama, dan berharap Sekutu akan menyangka bahwa kapalnya tenggelam disebabkan oleh ranjau laut dan bukannya U-boat. Angkatan Laut Inggris sendiri memang sebelumnya telah memeriksa wilayah sekitar dan menemukan beberapa buah ranjau, sehingga dengan leganya Dönitz mendapati bahwa dua dari kapal yang ditenggelamkan oleh Kretschmer diklaim Inggris sebagai “tenggelam karena ranjau”. Tapi hanya sebentar saja, karena ketika sebuah pesawat pengintai mendapati U-boat Kretschmer, barulah Royal Navy menghadapi kenyataan sebenarnya yang menyesakkan.
Di bulan Desember 1940 kehilangan kapal yang diderita Inggris begitu parahnya sehingga kini Inggris terancam untuk menyerah kalah melalui kelaparan dan kekurangan barang yang mengancamnya! Yang diperlukan adalah lebih banyak kapal pengawal untuk mengiringi konvoy yang lebih rapat sehingga mudah dikontrol, dan jangan lupa mesin pendeteksi yang lebih baik dibandingkan ASDIC, yang tak bisa membedakan suara kapal selam dengan suara ikan paus! Sebagai balasan pangkalannya yang diserahkan ke Amerika, Presiden Franklin Delano Roosevelt memutuskan untuk menghibahkan 50 buah perusak tambahan sisa Perang Dunia I. Ya, mereka memang sudah bangkotan, tapi setidaknya mereka mengisi kekurangan dalam hal kapal pengawal yang diderita Inggris. Belum cukup, kapal perusak cepat juga ditambahkan untuk tugas ini ketika dirasa mereka sudah tidak dibutuhkan lagi di tugas sebelumnya, menantang kapal-kapal perang Jerman! Belum cukup, produksi kapal baru digenjot habis-habisan. Yang lebih penting lagi adalah, para ilmuwan Inggris menemukan sebuah “magnetron gema berongga” berukuran kecil, yang kemudian terbukti merupakan bagian penting dari sistem radar untuk menangkap U-boat di permukaan. Apa yang diketahui oleh para awak U-boat sebagai “Happy Time” kini akan segera berakhir, meskipun buat sementara bisa dibilang tahun 1941 perang di lautan Atlantik sedang berkecamuk seru-serunya, dengan masing-masing mengerahkan segala upaya demi menghancurkan musuhnya.
Setelah Amerika masuk ke dalam kancah peperangan, U-boat Jerman mengalami masa “Happy Time” yang kedua, Die Glückliche Zeit. Amerika masih hijau dalam hal perang U-boat ini, dan bahkan tidak repot-repot menerapkan blackout terhadap kota-kota di sepanjang pantainya. Akibatnya, pantai Florida di waktu malam tetap semarak oleh lampu-lampu yang memenuhi angkasa. Setiap kapal yang lewat menampakkan siluet yang jelas karena cahaya yang timbul dari pantai. Tentu saja ini merupakan sasaran empuk bagi 21 kapal selam yang dikirimkan oleh Dönitz ke area tersebut. Di bulan Juni 1942 mereka telah menenggelamkan tidak kurang dari 505 buah kapal, dan kebanyakan di antaranya masih berada di sekitar perairan Florida! Di luar dari kekurangan dalam hal teknologi, kapal pengawal dan pelatihan, Amerika juga kekurangan pesawat pengintai untuk melindungi konvoynya dan mengawasi lautan. Mereka bukannya tidak ada, hanya saja kebanyakan pesawat Liberator yang ada dikirim ke front Pasifik, sementara Inggris tidak membantu sedikitpun dan menginginkan pesawat Lancaster mereka untuk tugas pengeboman belaka. Seperti biasanya, selalu Jerman lah yang jadi pelopor dalam hal supremasi udara di lautan sementara musuh-musuhnya hanya bertugas mengkopi mentah-mentah. Di akhir 1940 Jerman telah mendirikan skuadron Condor Focke-Wulf di sepanjang pantai Biscay yang dapat beroperasi sampai sejauh 800 mil ke lautan Atlantik. Di dua bulan pertama tahun 1941 saja mereka telah menenggelamkan 46 kapal dengan total tonase 167.822 ton, suatu perbedaan yang tidak terlalu jauh dengan unit yang memang ditugaskan khusus untuk melakukan hal ini, U-boat, yang “hanya” mampu menenggelamkan 60 buah kapal di periode yang sama. Meskipun telah diperingati berkali-kali oleh Inggris berdasarkan bocoran dari mesin Enigmanya, tapi Admiral Ernest J. King yang merupakan Panglima Angkatan Laut Amerika Serikat tetap tidak terpengaruh untuk merubah caranya dalam menjalani perang melawan kapal selam yang sudah terbukti kadaluarsa. Laksamana satu ini memang sudah kesohor dari dulunya sebagai pembenci Inggris sejati (Anglophobic)!
Tahun 1941, jumlah kapal yang ditenggelamkan oleh U-boat sebanyak 432 = 2.171.754 ton, sementara yang ditenggelamkan oleh pesawat sebanyak 371 = 1.017.422 ton. Bila ditambahkan dengan sebab lainnya, maka dalam tahun ini Sekutu telah kehilangan 1.299 kapalnya, suatu jumlah mengerikan yang tak mampu ditanggulangi oleh produksi kapal Inggris dan sekutunya pada masa itu. Tahun 1942 lebih buruk lagi, karena 1.644 kapal nyungseb ke dasar lautan, sementara kekuatan U-boat melonjak drastis dari 91 kapal selam operasional di bulan Januari, menjadi 212 di bulan Desember!
Meskipun begitu, situasi secara perlahan namun pasti menjadi berubah lebih kepada keuntungan Sekutu. di akhir tahun 1942 Inggris telah mempunyai kapal pengawal konvoy yang dapat membawa pesawat, sementara Liberatornya mulai dapat dibagikan untuk tugas pemburuan kapal selam. Pesawat terbang amfibi Sunderland yang berpangkalan di Eslandia dapat pula difungsikan untuk tugas ini meskipun ruang lingkup operasinya hanya terbatas di rute utara. Satu lagi, penemuan Inggris yang bernama The Hedgehog (Landak), yang merupakan mortir berlaras banyak yang dapat melemparkan 24 buah bom-kedalaman dalam waktu bersamaan di depan kapal perusaknya. Ada lagi The Squid (Cumi-Cumi), yang melakukan hal yang sama tapi Cuma berkapasitas 3 bom-kedalaman. Hal ini semua mampu menanggulangi masalah gangguan U-boat yang selama ini menggerogoti jalur perdagangan Inggris dan Sekutu-Sekutunya. Masih belum cukup, sistem RADAR baru kini mampu mendeteksi kapal selam yang berada di permukaan. Kapal-kapal anti-kapal selam ini dapat pula membawa pesawat pantai kecil di deknya. Selain dari semua teknologi tersebut, Inggris juga menerapkan taktik baru, yaitu formasi grup Pemburu/Pembunuh kapal perusak. Kini komandan pengawal tidak usah susah-susah lagi bila dihadapkan pada pilihan apakah akan mengejar U-boat, menyelamatkan awak kapal yang selamat, atau tetap berada bersama konvoy, karena telah ada bagian-bagiannya yang dipersiapkan untuk menghadapi keadaan semacam ini.
Di bulan September 1942, grup pertama di bawah komandan Johnny Walker (sebagian nama awaknya : Jim Beam, Smirnoff, Vodka, dan Topi Miring! Hehehe...) telah dilepaskan ke lautan, dan bersiap untuk menuju ke konvoy mana saja yang berada dalam ancaman U-boat. Tugasnya sederhana saja, mereka akan memperkuat pertahanan konvoy, lalu mendesak U-boat yang berani nongol, mengejar mereka sampai benar-benar hancur. Kalau itu sudah selesai, mereka balik lagi ke pangkalannya dan menyerahkan sisa perlindungan kepada kapal pengawal biasa.
Tapi kerugian Sekutu masih cukup besar. Di bulan Januari 1943 203.000 ton hilang di dasar lautan, dan di bulan Februari naik menjadi 359.000 ton. Di bulan Maret 1943 konvoy HX229 meninggalkan Halifax. Tanggal 13 Maret mereka kepergok secara tidak sengaja oleh U-653. kapal selam itu buru-buru mengirim laporan balik dan Dönitz lalu mengirimkan 12 buah U-boat yang selanjutnya menimbulkan malapetaka tak tertanggungkan bagi 11 lajur konvoy tersebut. 8 buah kapal tenggelam dalam serangan pertama, 2 lagi malam harinya. Dalam waktu bersamaan grup lain juga dalam perjalanan di tempat yang sama, konvoy SC122, yang bahkan lebih besar dari HX229. parahnya, SC122 adalah konvoy berkecepatan rendah sementara HX229 cepat. Di malam tanggal 18/19 Maret, dua konvoy tersebut memutuskan untuk bergabung, dan begitu juga penyerangnya, tidak kurang dari 25 U-boat! Di pagi hari tanggal 19 Maret, 21 kapal anggota konvoy berhasil ditenggelamkan. Dan kehilangan ini dapat lebih besar lagi andai saja tidak masuk dalam jangkauan pesawat Inggris esok harinya (20 Maret). Kenyataannya, sebuah Liberator yang datang mampu menenggelamkan satu U-boat penyerang. Dalam satu pertempuran itu saja, Sekutu kehilangan 140.842 ton, sementara total kehilangan di bulan Maret adalah 627.000 ton, salah satu dari bulan terburuk dalam Perang Dunia II bagi Sekutu!
Selama bulan April, grup Pemburu/Pembunuh dilepaskan ke perairan Mediterania, dan Roosevelt memerintahkan lebih banyak lagi Liberator dikirimkan ke Atlantik. Di bulan Mei telah terdapat 41 buah Liberator yang operasional. Di pertengahan bulan itu sebuah konvoy besar diombang-ambingkan oleh badai di selatan Greenland. 12 U-boat mengambil keuntungan dari situasi ini, dan berpesta pora menenggelamkan 9 kapal. Tapi 2 Grup Pendukung kemudian tiba dari Nova Scotia, arus berbalik, dan U-boat-U-boat yang dalam perjalanan pulang diburu habis-habisan, beberapa di antaranya ditenggelamkan. 4 buah ngabelekbek di malam pertama oleh bom-kedalaman, 2 tenggelam keesokan harinya oleh pesawat pembom, dan 2 lagi bertabrakan di dalam laut untuk kemudian tenggelam pula. Konvoy berikutnya kehilangan 3 buah kapal, tapi Jerman juga kehilangan 3 buah U-boatnya. Konvoy berikutnya kehilangan 2 buah kapal sementara kehilangan Jerman lebih besar lagi, 2 U-boat tenggelam dan 2 lagi rusak. Konvoy selanjutnya tidak tersentuh, sementara U-boat yang tenggelam kini malah mencapai 6 buah! Di bulan April total tonase kapal Sekutu yang tenggelam adalah 245.000 ton sementara Jerman kehilangan pula 15 U-boat. Di bulan Mei 165.000 ton hilang sementara Jerman kehilangan 40 U-boat, dan di bulan Juni Sekutu hanya kehilangan 18.000 ton sementara Jerman 17 U-boat.
Alarm! Alarm! Dönitz menyimpan U-boatnya yang tersisa di pangkalan sambil menanti strategi baru untuk menanggulangi situasi yang tidak kondusif ini. Selama bulan Juni 1944 Dönitz mencoba untuk menggunakan U-boatnya dalam mencegah pendaratan Sekutu di Normandia, tapi mereka pun berhasil diusir oleh Grup di bawah komandan Johhnie Walker (masih familiar dengan namanya kan?). di fase inilah Pertempuran Atlantik (The Battle of Atlantic) secara efektif berakhir. U-boat tak lagi menjadi ancaman Sekutu, apalagi setelah pangkalan-pangkalannya di Prancis dikuasai kembali lawan. Hitler sendiri kini menganggap bahwa U-boat hanya berfungsi sebagai organisasi “defensif” saja, untuk membuat sibuk Sekutu sementara dia mati-matian berperang melawan Rusia di Timur. Dönitz adalah Dönitz, dia tetap mengirim orang-orang pilihannya ke lautan dalam misi-misi bunuh diri, menginsyafi dengan sepenuh kesadaran bahwa kemungkinan mereka untuk kembali pulang adalah nol. Para komandan U-boat berkali-kali memperingatkan Dönitz bahwa Sekutu secara diam-diam mendengarkan mereka, dan jawaban Dönitz adalah : “Itu suatu hil yang mustahal! Mesin kode kita tak mungkin bisa dipecahkan.” Pada kenyataannya, mesin itu telah berhasil dipecahkan dan mereka mendengar! Betapapun besarnya ancaman U-boat yang muncul kemudian, mereka hanya berhasil menenggelamkan 1% dari total kapal Sekutu yang berlayar di Samudera Atlantik! Sebenarnya pula B-Dienst (intelijen Jerman) pun telah berhasil membongkar kode Royal Navy, dan mereka selalu sebisa mungkin memberitahu Dönitz akan konvoy-konvoy yang melintasi lautan. Adalah suatu hal yang luar biasa bahwa Jerman tidak pernah mendengar bocoran informasi yang berasal dari Enigma di sinyal-sinyal yang dikirimkan Angkatan Laut Sekutu!
Sedikit catatan, Baby :
Pada tanggal 14 Oktober 1939 jam 01.16 kapal perang Inggris Royal Oak ditorpedo ketika sedang berada di pangkalannya yang “terlindung” di Scapa Flow. Dibutuhkan waktu 15 menit bagi kapal ini untuk sekarat dan kemudian nyungsep ke dasar sedalam 15 fathom (depa). 833 orang awak kapal ikut tenggelam bersamanya. U-boat yang bertanggungjawab atas hal ini adalah U-47 di bawah komandan Günther Prien.
Ini bukanlah korban pertama Prien. Tanggal 3 September 1939, di hari yang sama ketika Inggris dan Prancis mendeklarasikan perang terhadap Jerman, Günther Prien menenggelamkan Bosnia, kapal dagang Inggris. Dua hari kemudian dia menambah dua kapal lagi dalam daftar korbannya. Sekembalinya dari Scapa Flow, Prien dielu-elukan layaknya pahlawan, dan dia dianugerahi Ritterkreuz yang disematkan langsung oleh Adolf Hitler. keputusannya untuk menyerang Scapa Flow memang bukan suatu hal yang main-main, dan bahkan Winston Churchill sendiri mengakui bahwa hanya orang-orang bermental baja yang berani menerobos pangkalan Angkatan Laut Inggris yang paling banyak mendapat penjagaan tersebut!
U-31 menanamkan sejumlah ranjau laut di Loch Ewes, yang berakibat dengan rusaknya kapal perang HMS Nelson dan tenggelamnya dua buah kapal penyapu ranjau yang ditugaskan untuk membersihkannya!
U-21 menanamkan ranjau-ranjau di Firth of Forth, yang kemudian mematahkan bagian belakang HMS Belfast dan menenggelamkan dua buah kapal lainnya.
Di bulan Juni 1940, Prien diserahi tanggung jawab untuk memimpin sebuah “grup” U-boat yang terdiri dari U-47 dan enam kapal selam lainnya. Grup ini bertanggung jawab atas tenggelamnya 32 kapal dagang dengan total tonase 175.000 ton!
Prien menenggelamkan 4 dari 5 kapal yang hilang dari konvoy SC2 di bulan Agustus 1940.
Prien juga orang pertama yang memergoki konvoy HX79, yang lalu meminta bantuan 5 U-boat lainnya. 14 kapal tenggelam dalam pembantaian yang kemudian terjadi, dengan 3 diantaranya dibukukan oleh Prien sendiri.
Tanggal 6 Maret 1941 Prien memergoki konvoy OB293, dan seperti biasa meminta bantuan 4 kapal lain untuk ikut dalam penyerangan. Meskipun kemudian konvoy ini kehilangan 4 buah kapalnya, tapi mereka tetap bertahan dengan gigih. Akibatnya, pihak Jerman kehilangan 1 buah U-boatnya dan 1 lagi rusak parah. Dengan tetap memposisikan konvoy tersebut dalam penglihatannya, Prien bergerak untuk menentukan sasaran selanjutnya dengan menggunakan kecepatan permukaan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Hal fatal kemudian terjadi. HMS Wolverine mengejutkannya dan kemudian menenggelamkan U-47 bersama seluruh awaknya termasuk Günther Prien. Terjadi perdebatan kemudian karena beberapa pihak berpendapat bahwa yang membuat U-47 tenggelam bukanlah kapal musuh melainkan karena torpedonya yang menjadi senjata makan tuan. Hal ini tidak pernah dapat dibuktikan, dan yang mendapat kredit sebagai penyebab tenggelamnya U-47 tetaplah Wolverine.
Dalam karirnya, Korvettenkapitän Hans-Günther Prien berhasil menenggelamkan 30 buah kapal dengan total tonase 193.808 ton. Selain itu, dia juga merusakkan 8 kapal lainnya dengan total tonase 62.751 ton. Atas prestasinya ini, dia dianugerahi Eichenlaub secara anumerta.
Jago U-boat terbesar Jerman dalam Perang Dunia II (bila dilihat dari skornya) tak diragukan lagi adalah Fregattenkapitän Otto Kretschmer, yang lebih dikenal sebagai “Serigala Atlantik”. Dia berhasil ditawan hidup-hidup dan dipenjarakan di Kanada. Orang-orang membicarakan dengan penuh kekaguman tentang U-99 yang membawa “Ladam Kuda Emas” di menara pengawasnya, juga tentang komandannya yang mendapat respek tinggi baik oleh kawan maupun lawan karena bertempur dengan penuh kehormatan dan kemanusiaan. Kretschmer biasa membawa kapal selamnya berdampingan dengan kapal yang baru ditenggelamkannya, lalu memberikan rokok, brandy dan peralatan medis pada para awak yang berada di perahu penyelamat sekaligus memberitahukan mereka rute pulang!
Hebatnya lagi, perang Kretschmer tidak berakhir setelah dia dipenjara. Dari kamp tawanannya di Kanada, dia mengorganisasikan sebuah grup spionase yang luar biasa efisien dan mengagumkan, yang biasa mensuplai Berlin dengan data-data militer rahasia Sekutu yang berlimpah dan, inilah yang membuat kita geleng-geleng kepala, akurat! Keterangan detailnya bisa kita temukan dalam buku karangan Terence Robertson berjudul “The Golden Horseshoe”. Sayangnya, sama seperti buku-buku masterpiece karangan Walker RN, buku ini pun sudah langka di pasaran dan tidak diproduksi kembali.
Setelah perang berakhir, Otto Kretschmer menjadi seorang diplomat. Rekaman wawancara bersamanya dan para komandan U-boat lain yang selamat dapat disaksikan dalam sebuah video dokumenter yang TOP BGT BLG (Top Banget Belegug) berjudul “Battle of the Atlantic” keluaran Luther Pendragon Priduction tahun 1995 (RGI 3037) dengan narasi dari Julia Somerville yang bisa dibeli dengan harga £13.99. juga termasuk dalam video ini adalah beberapa rekaman langka dari pembunuh U-boat yang top markotop, Kapten Johnnie Walker (ketemu lagi dah sama orang ini!) saat sedang beraksi.
Lukisan yang memperlihatkan aksi dari Gefreiter Günter Halm yang kemudian membuatnya dianugerahi Ritterkreuz
Gefreiter Günter Halm menerima Ritterkreuz langsugn dari tangan Erwin Rommel si "Serigala Masakan Padang eh Padang Pasir"
Kebayang kan bagaimana perasaan sang Gefreiter dalam acara ini? Bangga yang membuncah-buncah!
Foto dari Gefreiter Günter Halm ini diambil di Afrika Utara dalam sebuah upacara penghargaan dimana Halm menerima medali bergengsi Ritterkreuz langsung dari tangan "Serigala Padang Pasir" Erwin Rommel. Setelah perang, Halm mengenang bahwa saat itu dia merasa terganggu sekaligus malu karena seekor lalat nakal terus menerus terbang di sekitar wajahnya, pada saat Rommel sedang mengajaknya berbincang! Uniknya, di upacara ini Halm juga menerima tambahan medali Eiserne Kreuz kelas pertama yang masih baru dari pabrik dan disematkan di dada kirinya. Halm yang saat itu berusia 19 tahun merupakan peraih Ritterkreuz termuda nomor dua di seluruh Wehrmacht!
Banyak yang terkecoh dan mengira bahwa foto ini adalah Günter Halm, padahal Herr Halm sendiri mengatakan bahwa foto ini bukanlah dirinya! Pendapat saya pribadi, setelah penelusuran yang seksama terhadap anggota Korps Afrika Rommel, maka saya berkeyakinan bahwa orang di atas adalah Leutnant Hellmut von Leipzig. Kalau nggak percaya, liat saja foto Leipzig disini
Günter Halm sebagai Leutnant. Masih terlihat wajahnya yang imut-imut!
Oleh : Alif Rafik Khan
Günter Halm dilahirkan tanggal 27 Agustus 1922 di sebuah desa kecil bernama Elze, sebagai anak dari Reichsbahnobersekretärs (sekretaris kepala jawatan kereta api nasional). Ketika Perang Dunia II pecah di tahun 1939, Halm sedang magang (maschineschloßer) di sebuah bengkel kendaraan bermotor, yang berhasil dia selesaikan di musim gugur tahun 1941. Di luar profesinya tersebut, minat dia yang sangat besar untuk mengutak-atik mesin motor/mobil berkembang setelah bergabung dengan Klub Bermotor Hitlerjugend 1/79 sebagai leader senior.
Bulan Oktober 1941, Halm mendaftarkan diri secara sukarela di unit bermotor Angkatan Darat (Heer) yang termasuk ke dalam sebuah Panzerjäger Ersatzabteilung (seksi cadangan anti-tank). Tak lama setelah menyelesaikan latihan dasar di akhir bulan April 1942, Halm dikirim ke Afrika sebagai bagian dari Deutsche Afrikakorps (DAK), Pak-Zug (peleton anti-tank), Stabskompanie (staff kompi), Panzergrenadier-Regiment 104, di bawah pimpinan Leutnant Skubovius. Peleton itu sendiri diperlengkapi dengan dua buah senjata anti-tank 7,62cm dengan berat 1400 kilogram yang merupakan hasil rampasan dari pihak Rusia. Halm adalah cannonier senjata pertama yang dikomandani oleh Unteroffizier Jabeck. Biasanya, situasi sulit dapat diatasi apabila sang cannonier dapat membidik targetnya (yang ditunjukkan oleh kepala kru senjata atau komandan peleton). Jauh dari kesan sebagai seorang pemberani atau tukang perang, sebenarnyalah Günter Halm adalah seorang yang pemalu dan senang berasyik-masyuk dengan kesendiriannya. Tapi itu tak menghalanginya dari bakat besarnya sebagai tukang merontokkan tank musuh, karena tanggal 15 Juli 1942 Halm sudah dianugerahi Eiserne Kreuz II klasse setelah memberantakkan 2 buah tank Inggris (yang merupakan korban pertamanya) dalam Pertempuran Bir Hacheim.
Daerah operasi Afrika Utara terutama aktif dalam masa-masa ini. Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang merupakan Oberbefehlshaber Panzerarmee Afrika sedang berada di puncak kesuksesannya, dimana dia kini telah nongkrong di tapal batas Alexandria setelah didudukinya Tobruk tanggal 21 Juni 1942 dan mencapai wilayah El-Alamein. Rommel berusaha untuk maju lebih jauh lagi ke wilayah Mesir. Tapi Inggris tidak membiarkan Rommel untuk berbuat sekenanya, karena Jenderal Sir Claude Auchinlek yang merupakan panglima 8th Army Inggris segera melancarkan serangan balasan kuat yang didukung oleh gabungan pasukan Inggris, Australia, Afrika Selatan dan India. Tujuan utama dari serangan ini adalah front tengah El-Alamein yang dijaga oleh pasukan Jerman dan Italia yang sudah kepayahan karena pertempuran yang tak henti-hentinya. Ini membuat posisi Rommel dalam bahaya besar. Dan memang, terbukti bahwa dalam fase awal pasukan Sekutu berhasil masuk jauh ke dalam posisi Italia. Untuk lebih memperkuat ‘tusukannya’, jenderal Auchinlek menambahkan Brigade Tank ke-23 yang baru datang dari Inggris ke front pertempuran, bersama dengan Brigade India ke-161. Perintahnya adalah untuk menggulung habis Divisi Panzer Jerman ke-21 di bawah pimpinan Generalmajor Georg von Bismarck. Dalam serangan ini, Inggris mengerahkan lebih dari 100 buah tank Mark II, IV dan Valentine. Mungkin Auchinlek akan berkata kepada Rommel “Bersiap-siaplah Rommel! Ora gelem wadon bae ble’e-ble’e!”
Inilah masa dimana seorang prajurit muda berusia 19 tahun bernama Günter Halm memperlihatkan yang terbaik dari dirinya. Selama menderasnya serangan 22nd Armored Brigade Sekutu yang tak henti-henti di perbukitan Ruweisat, Grenadier Halm berhasil menghancurkan 7 buah tank Inggris dengan senjatanya, sementara secara keseluruhan, kompinya yang dipimpin Skubovius meluluhlantakkan 9 tank dan membuat 6 lainnya tidak berfungsi hanya dalam 6 menit! Bahkan setelah dua orang kameradnya terluka parah dihantam serangan yang bergelombang, Halm tetap terus berjuang tanpa kenal lelah dan takut, menghajar setiap tank musuh yang nyelonong masuk ke wilayah ‘kekuasaannya’. Di tanggal 22 Juli 1942, sebanyak 146 tank Sekutu tergeletak hancur. Tanggal 27 Juli, tidak kurang dari 1.400 tawanan berhasil dibungkus Jerman. Ketika Rommel melancarkan serangan balasan ke pihak Inggris, tambahan 1.000 orang tawanan Sekutu masuk kantong dan 60 tank Inggris kembali hancur lebur. Setiap tank yang luput dari penghancuran oleh Panzerjäger (Pemburu Tank), maka akan dihancurkan oleh segerombolan Panzer IV Jerman dari Divisi Panzer ke-21, dan Stuka yang menukik dari udara. Ngeri!
Begitu terkesannya Oberst Herbert Ewert (komandan Panzergrenadier-Regiment 104 tempat) atas apa yang telah dilakukan ABG pendiam ini, sehingga pada tanggal 23 Juli 1942 dia menganugerahkan Eiserne Kreuz I klasse kepada Grenadier Günter Halm. Masih belum cukup? Tanggal 7 Agustus 1942, Halm menerima tambahan medali bergengsi Ritterkreuz yang dikalungkan ke lehernya langsung oleh si “Serigala Padang Pasir” sendiri, Erwin Rommel, yang dihadiri oleh para pemimpin pasukan Axis di Afrika kelas kakap : Marsekal Italia Ugo Cavallero, General der Panzertruppe Walther Nehring, komandan lapangan DAK General der Panzertruppe Wilhelm Ritter von Thoma, dan kepala staff Rommel Oberst i.G. Siegfried Westphal (kelak menjadi General der Kavallerie)! Bersama ini, naik pula pangkat Halm menjadi Gefreiter. Jangan pula lupakan, dia juga adalah pemegang rekor penerima Ritterkreuz termuda sampai saat itu!
Apa lagi yang harus saya komentari? Yang jelas, I LIKE HIM A LOT! Dia adalah seorang prajurit artileri yang bertempur bagaikan singa melebihi dari tugas yang menjadi tanggungjawabnya, dengan tanpa kenal takut menghadapi musuh yang jauh berlipat dengan kekuatan yang mengerikan. Dan cukuplah sebagai bukti dalam pertempuran yang amit-amit serunya itu, Halm berhasil keluar darinya dengan kepala tegak, tanpa tersentuh satu luka pun! Sangat jarang orang dari artileri menerima Ritterkreuz, tidak seperti unit lainnya yang ‘”langganan” masuk Wehrmachtbericht seperti Panzerwaffen atau pilot Luftwaffe. Apalagi, usianya yang begitu belia menjadi nilai tambah yang tak terbantahkan akan betapa spesial pake telornya orang satu ini!
BTW, skor akhir Günter Halm sendiri adalah 9 tank, dan untuk ini dia berhak menyandang status jagoan...
Promosi : 1 Juli 1942 Gefreiter 1 November 1942 Unteroffizier 1 Juli 1943 Fahnenjunker 1 Oktober 1943 Feldwebel 1 November 1943 Oberfähnrich 1 Maret 1944 Leutnant
Karir Militer : 4 Agustus 1941 Panzerjäger-Abteilung Braunschweig 28 Desember 1942 Dak, cannonier, Panzergrenadier-Regiment 104, Divisi Panzer ke-21 Sampai dengan Maret 1943 dirawat di rumah sakit Athena dan Wina setelah terluka parah di Afrika Agustus 1943 Fallschirmjäger-Lehrgang Wischau- Böhmen-Mähren Desember 1943-Maret 1944 Oberfähnrichs-Lehrgang Berlin Maret 1944 Prancis, front invasi : Ord.Offz, I./Pz.Gren.Rgt.192., 21.Pz.Div 24 Agustus 1944 menjadi tawanan perang di Inggris dan Amerika Serikat Maret 1946 dikeluarkan dari tahanan dan kembali pulang ke kampung halaman
Kejahatan perang pertama dalam Perang Dunia II terjadi ketika pesawat-pesawat bomber Luftwaffe membombardir kota Wielun di Polandia yang tak dipertahankan pada jam 4:40 subuh hari Jum'at tanggal 1 September 1939, yang merupakan permulaan dari invasi Jerman ke negara tersebut. 1.200 orang penduduk sipil tewas dalam pemboman tersebut
Oberst Hannes Trautloft, jagoan Luftwaffe dengan 58 kemenangan, mempunyai beberapa rekor PERTAMA yang patut diperhitungkan. Dia adalah pilot yang membukukan kemenangan udara pertama dalam Perang Saudara Spanyol, yang dilakukannya bersama dengan Kraft Eberhardt tanggal 25 Agustus 1936, dengan korban sebuah pesawat Breguet XIX dari pihak Republik. Tidak cukup, dia juga pilot Jerman pertama yang ditembak jatuh dalam Perang Saudara Spanyol! Hal ini terjadi tak lama setelah dia berhasil menembak jatuh pesawat Potez 540 sebagai kemenangan keduanya. Sayangnya, pesawat Trautloft sendiri ikut terkena tembakan sehingga terpaksa dia terjun dengan parasutnya. Untungnya, Trautloft mendarat di dekat wilayah kekuasaan Nasionalis sehingga berhasil selamat tanpa menderita luka sedikitpun! Terakhir, Hannes Trautloft mendapat kehormatan sebagai pilot pertama yang mengujicoba pesawat tempur baru Messerschmitt Bf 109 di bulan Desember 1936. Jenis pesawat ini terbukti kemudian sebagai pesawat pemburu yang paling diandalkan oleh Luftwaffe!
Anggota wanita pertama Sturmabteilung adalah Elenore Baur. Dia adalah satu-satunya wanita yang berbaris bersama Hitler dalam peristiwa kudeta yang gagal di Münich tanggal 9 November 1923. Ketika perang pecah, Elenore bertugas menjadi perawat dan kemudian dikenal sebagai Sister Pia dari Münich. Sampai meninggalnya di tahun 1981 dalam usia 95 tahun, keyakinan Elenore akan Nazisme masih tetap semembara seperti sebelumnya!
General der Panzertruppe pertama adalah Oswald Lutz, yang dipromosikan pada tanggal 1 November 1935 sekaligus menjadi kepala pasukan mekanis Jerman. Di foto parade Berlin (Januari 1938) di atas, Lutz berdiri nomor tiga dari kiri baris depan. Lengkapnya, baris belakang dari kiri ke kanan : Werner von Blomberg, Hermann Göring, Erich Raeder dan Gerd von Rundstedt. Baris depan dari kiri ke kanan : Ernst Busch, Oswald Lutz, Leonhard Kaupisch dan Edmund von Wachenfeld
Bisa dibilang, kemungkinan besar inilah foto pertama KIA dalam Perang Dunia II! Bagaimana tidak, prajurit Jerman yang malang ini terbunuh di hari pertama penyerbuan Jerman ke Polandia yang memicu terjadinya perang paling akbar dalam sejarah, tanggal 1 September 1939, tepatnya di Bukit 179 dekat Chojnice
Para kru U-178 ini rupanya memiliki masa kanak-kanak yang terlalu bahagia... :)
Mau jadi artis film atau Führer, masalahnya tetep sama : fans yang histeris!
Apakah ini ras Arya yang sesungguhnya?
Namanya wanita dimana-mana ya sama saja, senang bergosip ria! Termasuk juga mbak-mbak anggota Luftwaffe Helferinnen ini
Saatnya bagi para prajurit ini untuk melupakan realitas sejenak dan BERMIMPI!
Kalau mikrofon didekatkan kepada para prajurit Jerman yang tertidur setelah kelelahan bertempur dalam penyerbuan dari Belanda ke Belgia ini (Mei 1940), maka satu-satunya suara yang terdengar adalah : zzzzzzzzz....
Kemanapun jemputanku membawa, ora gelem!
Inilah para pengganti Fallschirmjäger yang terbunuh dalam Pertempuran Kreta!
Berapa banyak Marsekal Lapangan yang masih mau 'menghinakan' dirinya mendorong mobil mogok milik anak buahnya? Mungkin hanya Erwin Rommel satu-satunya!
Kuat juga nih bocah Hitlerjugend berbadan imut ini, dia mampu memanggul temennya yang berbadan raksasa! BTW, si badan raksasa adalah Achim von Tippelskirch yang kemudian menjadi Leutnant di Heer. Ayahnya adalah Generalleutnant Ulrich von Tippelskirch dari Luftwaffe, sementara pamannya adalah General der Infanterie Kurt von Tippelskirch dari Heer
SS-Gruppenführer Jakob Sporrenberg. Dari keterangannya lah pertama kali terungkap tentang misteri mengejutkan Die Glocke!
Nick Cook sedang memeriksa pilar-pilar yang berada di sekeliling The Henge
The Henge yang dipercaya sebagai tempat penyimpanan Die Glocke
A little art for Die Glocke
Inilah mungkin gambaran Die Glocke seperti yang ada dalam film!
Oleh : Alif Rafik Khan
Die Glocke (Bel) adalah nama dari senjata rahasia Nazi dengan teknologi super melebihi zamannya. Satu-satunya sumber yang menceritakan hal ini adalah buku jurnalisme pertahanan luar angkasa Polandia dan sejarawan militer Igor Witkowski, yang telah mengklaim bahwa Die Glocke merupakan salah satu senjata rahasia yang luar biasa (Wunderwaffe). Hal ini menjadi populer setelah diangkat oleh Nick Cook, Joseph P. Farrell dan website-website teori konspirasi, yang mengkaitkannya dengan okultisme Nazi dan pencarian energi anti-gravitasi.
Die Glocke pertama muncul dalam buku berbahasa Polandia karangan Igor Witkowski berjudul Prawda O Wunderwaffe terbitan tahun 2000, yang di Jerman sendiri diterbitkan dengan judul Die Wahrheit über die Wunderwaffe, yang menamakannya sebagai “Bel Nazi”. Tapi hal itu masih belum banyak diketahui orang, sampai dengan diterbitkannya buku The Hunt for Zero Point karangan jurnalis, pengarang, dan mantan editor penerbangan Inggris untuk Jane Information’s Group, Nick Cook. Rasa keingintahuan meningkat, dan buku Witkowski kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2003 oleh Bruce Wenhamdengan judul The Truth About the Wunderwaffe. Spekulasi lebih lanjut tentang penemuan ini telah muncul dalam buku karangan pengarang ‘pinggiran’ Amerika, Joseph P. Farrell, Jim Marrs dan Henry Stevens.
“Bel Nazi” telah menjadi semacam legenda bagi orang-orang yang percaya dengan energi titik-nol, mesin yang dapat bekerja tanpa henti, alat anti-gravitasi, pergeseran realitas, penghidupan kembali, dan manipulasi waktu-tempat.
Bel ini disebut-sebut sebagai salah satu eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan Third Reich yang bekerja untuk SS dan bekerja di fasilitas militer Jerman yang lebih dikenal sebagai Der Riese (Raksasa) di dekat pertambangan Wenceslaus. Pertambangan ini sendiri terletak sekitar 50 kilometer dari Wroclaw, sedikit ke utara dari desa Ludwikowice Klodzkie (sebelumnya dikenal sebagai Ludwigsdorf) di dekat perbatasan dengan Cekoslowakia. Cook dan Witkowski mengunjungi tempat ini dalam rangka kepentingan untuk pembuatan film dokumenter Channel 4 Inggris UFOs: the Hidden Evidence (yang punya nama lain juga, An Alien History of Planet Earth).
Alat ini dikatakan terbentuk dari bahan metalik, dengan lebar 9 kaki dan tinggi 12 sampai 15 kaki, dengan bentuk sangat mirip dengan bel (makanya nama Die Glocke itu tercipta). Di dalamnya terdapat dua silinder yang berotasi berlawanan dan diisi dengan zat yang serupa dengan merkuri yang akan berwarna lembayung ketika diaktifkan (nama sebenarnya adalah Xerum 525, tapi telah dispekulasikan sebagai Merkuri Merah). Bila benda ini beraksi, maka Die Glocke akan memancarkan radiasi kuat, yang pada kenyataannya telah membunuh beberapa ilmuwan yang terlibat dalam pembuatannya, juga banyak tanaman dan hewan percobaan!
Berdasarkan keterangan dari Igor Witkowski, sejarawan penerbangan angkasa Polandia yang telah meneliti benda ini selama lebih dari 20 tahun, dalam wawancaranya dengan Discovery Channel dalam dokumenter Nazi UFO Conspiracy : “Penampilan luarnya.. begitu anehnya dengan bungkus bahan keramik dan berbentuk bel, yang menyimpan sebuah inti yang dikelilingi oleh dua silinder yang berotasi dalam rotasi berlawanan. Dan setelah terhubung dengan arus bervoltase tinggi, silinder tersebut akan mulai berputar di arah yang bertolak belakang. Dipercaya bahwa hal ini akan menjadi salah satu cara untuk menaklukkan gravitasi bumi.”
Menurut keterangan dari Farrell, begitu berkepentingannya Nazi untuk menjaga kerahasiaan bel ini, sehingga mereka membunuh 60 orang ilmuwan yang bekerja dalam proses pembuatannya, dan menguburkannya di sebuah kuburan massal! Terus bagaimana hal ini bisa bocor juga? Satu-satunya sumber datang dari jenderal SS yang ditugasi untuk melakukan pembantaian tersebut, Jakob Sporrenberg, yang setelah perang usai dituntut ke pengadilan penjahat perang Polandia atas tuduhan membunuh rakyatnya sendiri di tempat yang kemudian menjadi wilayah Polandia. Dari pernyataan tertulisnyalah kita tahu akan kisah Bel Nazi ini.
Bila diminta untuk berandai-andai, apakah yang kemudian terjadi pada bel tersebut, bila memang dia ada? Tidak diketahui apakah dia dievakuasi keluar Jerman, meskipun ada pula beberapa perkiraan yang muncul : Witkowski berspekulasi bahwa Die Glocke dibawa ke salah satu negara di Amerika Selatan yang bersimpati kepada Nazi, sementara Cook berkeyakinan bahwa akhir Bel Nazi adalah di Amerika Serikat sebagai bagian dari deal rahasia dengan jenderal SS Hans Kammler, sedangkan Farrell sendiri mempunyai pendapat lain bahwa Die Glocke tidaklah dibawa ke Amerika Serikat sampai pengangkutannya setelah insiden UFO Kecksburg yang terkenal.
Terus apa sebenarnya tujuan dari pembuatan “bel” super aneh ini? Masih belum diketahui, walaupun ada beberapa spekulasi dari anti-gravitasi sampai ke perjalanan waktu.
Jan van Helsing mengklaim dalam bukunya Secret Societies bahwa, dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh anggota dari organisasi-organisasi rahasia (Vril Gessellschaft, Thule Society, elit SS Matahari Hitam) bersama dengan dua orang cenayang, dikumpulkan data-data teknis untuk pembangunan sebuah mesin terbang, berdasarkan sebuah pesan yang disebut-sebut datang dari sistem solar Aldebaran.
Salah seorang ilmuwan yang menjadi nara sumber Cook dalam The Hunt for Zero Point adalah “Dr. Dan Marckus” (Cook mengatakan dalam bukunya bahwa dia telah mem-“nyamar”kan nama Marckus dan bahwa dia adalah seorang “ilmuwan handal yang bekerja di Departemen Fisika di salah satu universitas Inggris terkemuka”). Dr. Marckus mengklaim bahwa Bel Nazi adalah sebuah generator lapangan bertorsi dan bahwa para ilmuwan SS berusaha untuk membuat semacam mesin waktu dengannya.
Klaim asli tentang keberadaan eksperimen SS tersebut telah disebarkan pula oleh Igor Witkowski, yang berkata bahwa dia telah menemukan keberadaan proyek kontroversial ini setelah melihat transkrip rahasia interogasi KGB terhadap SS-Gruppenführer Jakob Sporrenberg.
Berdasarkan keterangan Witkowski, di bulan Agustus 1997 telah diperlihatkan kepadanya beberapa file oleh seorang perwira intelijen Polandia (yang identitasnya dirahasiakan). Si perwira ini mempunyai akses ke dokumen-dokumen penting sekaligus top secret menyangkut senjata-senjata rahasia yang dikembangkan oleh Nazi. Disinilah Witkowski pertama kali mengetahui tentang detail interogasi Sporrenberg yang dilakukan tahun 1950/51 ketika dia dipenjara di Polandia. Witkowski menceritakan secara terperinci hal ini dalam bukunya The Truth About the Wunderwaffe, dan meskipun tidak pernah ada verifikasi akan klaim yang diajukan oleh Witkowski, tetapi hal ini segera mendapatkan perhatian masyarakat luas setelah diberitakan ulang oleh pengarang Inggris Nick Cook dalam buku non-fiksinya yang populer, The Hunt for Zero Point.
Sumber satu-satunya kisah ini semata-mata bertumpu pada kesaksian Witkowski yang melihat transkrip rahasia interogasi Sporrenberg dan komentar dia terhadapnya. Dokumen-dokumen ini sendiri tidak pernah dipublikasikan karena Witkowski mengaku dia hanya diperbolehkan untuk menterjemahkan, dan tidak untuk menggandakannya. Tak ada bukti lain selain bukti ini yang muncul ke permukaan.
Ternyata Die Glocke bukanlah satu-satunya benda yang “ditemukan” oleh Witkowski karena ada lagi yang namanya “The Henge”, yang kemungkinan adalah bangunan percobaan untuk pendorong anti-gravitasi yang digerakkan oleh Bel. Witkowski sendiri berkata bahwa kompleks industri yang berada di dekat pertambangan Wenceslas merupakan tempat percobaan Bel Nazi tersebut.
Di bulan Agustus 2005 seorang investigator Jerman dan perwira staff GAF bernama Gerold Schelm (dengan nama lain “Golf Sierra”) mengunjungi “The Henge” dan mempublikasikan penemuannya di bulan November tahun itu. Dia mengklaim bahwa sebagian cerita tentang “The Henge” adalah kepalsuan belaka, dengan memperbandingkannya dengan bangunan serupa yang dia temukan di sebuah kota Polandia bernama Siechnice, yang ternyata merupakan kerangka dari menara pendingin. Untuk memperkuat klaimnya, Schelm memperlihatkan perbandingan foto Witkowski dengan menara pendingin Siechnice.
Schelm kemudian berkata lebih jauh : “persamaan antara bangunan beton yang dikenal dengan nama “The Henge” dengan struktur dasar dari menara pendingin Siechnice benar-benar tak dapat disangkal lagi. Dan meskipun jumlah tiangnya tidak sama (12 di Siechnice dan 11 di Ludwikowice), saya yakin bahwa bahkan dimensinya tidak jauh berbeda. Bangunan tersebut benar-benar mirip satu sama lain, yang membuat saya berkesimpulan bahwa menara pendingin dan “The Henge” dibangun dengan perencanaan yang sama, bahkan mungkin oleh perusahaan konstruksi yang sama. Saya tak berhasil mendapatkan data tentang kapan menara Siechnice tersebut dibangun, tapi menara tersebut sampai saat ini berada dalam kondisi yang bagus, dan membuat saya berpikir bahwa kemungkinan ia dibuat setelah Perang Dunia II, mungkin di tahun 60-an atau 70-an.”
Witkowski memperlihatkan pada Cook beberapa baut berbahan metal yang terlihat di bagian paling atas struktur yang dia temukan, tepay di setiap tiang. Witkowski berkesimpulan bahwa baut-baut tersebut di masa lalu merupakan semacam peredam kekuatan besar yang dikeluarkan oleh benda berat yang disimpan di tengah-tengah bangunan, yang apalagi kalau bukan Die Glocke.
Tentu saja untuk hal ini pun Gerold Schelm punya asumsi tersendiri : “ Dengan melihat perbandingan antara “The Henge” dengan menara pendingin Siechnice, maka tujuan dari baut-baut yang disebutkan oleh Witkowski menjadi jelas : konstruksi metal bagian atas dari menara pendingin Siechnice bertumpu tepat pada 12 baut metal dan hanya dapat terlihat dari bagian atas setiap tiang, sama seperti “The Henge”. Maaf Mr. Mahmud eh Witkowski, tapi di titik ini teori anda masuk ke gorong-gorong (tokay kalee!). Struktur beton yang anda sangka sebagai bangunan percobaan untuk menyimpan Bel Nazi di dalamnya, tak lebih dari sisa-sisa sebuah menara pendingin. Dan, dengan melihat fakta ini sebagai bahan pertimbangan, akan tampak bahwa pembangkit tenaga listrik yang terletak di ujung utara lembah tersebut, bersebelahan dengan “Fabrica”, pastilah mempunyai sebuah menara pendingin, dan tempat paling pas untuk membangun menara semacam itu tentunya berada di seberang kanan “Fabrica”. Nah, “Fabrica” itu sendiri, apa pun tujuan pendiriannya, pastilah membutuhkan pasokan listrik yang besar, sementara letaknya sendiri berada di tempat yang jauh dari mana-mana. Lebih praktis untuk membangun sebuah pembangkit tenaga listrik di pabrik tersebut, menggunakan batu bara dari pertambangan Wenceslas sebagai penggeraknya. Seperti yang Cook katakan sendiri, terdapat sebuah pembangkit tenaga listrik di ujung lembah, yang Witkowski perlihatkan langsung kepadanya.”
Ketika Cook bertanya pada Witkowski bangunan apa itu, Witkowski menjawab “Saya tak tahu pasti. Tapi apapun itu, orang-orang Jerman berhasil menyelesaikan pembuatannya. Dengan kondisi cahaya seperti ini memang sulit untuk melihat warna bangunan tersebut, tapi anda bisa perhatikan sendiri bahwa beberapa cat hijau aslinya masih tertinggal. Anda tak mungkin mengkamuflasekan sesuatu yang masih belum jadi. Itu adalah sesuatu yang tak masuk di akal.” Kemudian, Witkowski berkata bahwa itu adalah sebuah bangunan percobaan. Cook sendiri kemudian berpendapat bahwa dia tidak akan mendukung atau menyangkal klaim Witkowski, karena biarlah waktu yang akan membuktikannya.
Witkowski memperlihatkan lebih jauh lagi pada Cook, dimana tanah di sekeliling struktur tersebut telah digali sedalam satu meter kemudian dilapisi dengan ubin keramik yang sama seperti yang disebutkan oleh Sporrenberg dalam ruang tempat Bel disimpan. Seperti biasa, Schelm mengeluarkan klaim tandingan : “Saya telah membekali diri dengan sebuah sekop lipat kecil, dan kemudian mulai menggali di tiga atau empat tempat sekeliling “The Henge”. Saya tak menemukan apa-apa, hanya tanah biasa yang penuh dengan cacing, serangga dan daun busyuk.”
Mengenai cat di bangunan Ludwikowice, Schelm berpendapat : “Ketika saya berjalan di antara tiang-tiang tersebut, saya memperhatikan bahwa di batas sebelah tenggara terdapat sisa-sisa yang kemungkinan merupakan pelek beton, yang mengelilingi “The Henge” dengan diameter yang sedikit lebih besar dan berada 3 meter di luar lingkaran tiang. Sebagian dari pelek tersebut masih tersisa, dengan panjang 4 meter, sementara yang lainnya sudah tak dapat diakses lagi karena sudah dipenuhi oleh rumput dan alang-alang, atau karena sudah diledakkan jauh di waktu sebelumnya. Warna Pelek beton itu adalah warna yang sama yang digunakan untuk seluruh bangunan, warna pirus (biru-hijau).
Di tahun 2006 Joseph P. Farrell berkata dalam bukunya SS Brotherhood of the Bell : “Sebuah obyek yang sangat aneh yang tampak seperti Stone Henge besar tapi terbuat dari beton, dan kemungkinan merupakan sebuah bangunan percobaan untuk proyek tertentu.”
Farrell melanjutkan : “Witkowski telah menambahkan beberapa informasi tambahan kepada saya yang tidak ada dalam bukunya. Rainer Karlsch, pengarang Jerman yang baru saja menerbitkan buku di negaranya tentang program nuklir Hitler, juga menyebutkan bahwa sebuah tim ahli fisika dari Universitas di Giessen telah melakukan penelitian intensif di Ludwikowice, terutama di The Henge. Hasil penelitian tersebut begitu luar biasanya, karena terdapat sisa-sisa isotop di konstruksi yang dipakai sebagai lokasi penelitian, yang hanya bisa dihasilkan oleh radiasi kuat sinar neutron. Maka tentunya harus ada semacam benda yang mengakselerasi ion-ion, sebuah benda yang BERAT. Kita bisa mengkalkulasikan intensitas radiasi yang terjadi di tahun 1945, dan secara umum radiasinya tinggi sekali. Dengan kata lain, apapun itu yang diujicoba di The Henge, dan semua indikasi mengarah ke Bel Nazi, maka hal itu selain membutuhkan sebuah bangunan kuat yang dapat menahan setiap goncangan, juga akan mengeluarkan radiasi yang kuat dan berat.”
Dalam bukunya yang berjudul Hitler’s Suppressed and Still-Secret Weapons, Science and Technology, Stevens menulis tentang percakapan yang terjadi di tahun 60-an antara ayah temannya dengan boss-nya di NASA, Otto Cerny, yang ternyata adalah ilmuwan Jerman dari Operation Paperclip. Pada mulanya Cerny hanya samar-samar saja bercerita tentang apa yang dia lakukan di masa lalu, dan berkata bahwa itu adalah “eksperimen aneh tentang alam waktu”. Tapi kemudian dia menggambar sebuah struktur yang dibuat dari lingkaran batu-batu dengan sebuah cincin di atasnya bersama dengan cincin kedua yang seperti tempat menggantung sesuatu. Cerny manambahkan bahwa di atas struktur batu tersebut dipasang sebuah cermin cekung yang membuat“bayangan-bayangan di masa lalu” tampak kembali di masa kini. Dia mengklaim bahwa adalah mungkin untuk “kembali ke masa lalu dan menjadi saksi apa yang terjadi di masa itu” meskipun tetap kita tidak bisa maju ke masa depan!
Die Glocke muncul juga di buku-buku lain, film, lagu, dan bahkan game :
Buku :
-Black Order (2005) oleh James Rollins – tema utama
-Swastika (2005) oleh Michael Slade – tema utama
-Black Sun (2006) oleh James Twining
Film :
-Outpost (2008) oleh Steve Barker – tema utama
-Iron Sky (2009) oleh Timo Vuorensuola
Musik :
-Die Glocke (2009) oleh Cage, dalam album Science of Annihilation
Video Game :
-Call of Duty: World at War – masuk dalam level Zombie Nazi “Der Riese” untuk Map Pack 3 sebagai teleporter
-Wolfenstein – masuk ke dalam salah satu proyek-proyek khusus Nazi
Egon Albrecht sebagai Oberleutnant setelah menerima Ritterkreuz
Satu-satunya foto Egon Albrecht dengan tanda-tangannya!
Egon Albrecht (duduk pertama dari kiri di baris belakang) dalam pertemuan para perwira dari I Jagdkorps
Egon Albrecht (kanan) memperhatikan, sementara Adolf Galland dan Walter Krupinski bersalaman dan ngadu huntu!
Batu nisan Egon Albrecht. Perhatikan bahwa disini namanya adalah Egon Albrecht-Lemke!
Oleh : Alif Rafik Khan
Egon Albrecht dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1918 di Curitiba, Brazil. Mengenai hal ini ada sesuatu yang menarik untuk dicatat : Dr. Ruy Olympio melakukan penelitian mengenai tempat lahir Albrecht, yang saat itu diyakini berada di distrik Paraná, Curitiba. Dengan terkejut, dia mendapati bahwa pada tanggal 10 Mei 1918 telah lahir dua bayi bernama Egon! Yang pertama bernama Egon Alberto Kummrow, anak dari Guillermo Kummrow dan Cecília Kummrow. Sedangkan satunya lagi bernama Egon Friedrich Kurt, anak dari Frederico Albrecht dan Hedwig Elditt Albrecht. Pertanyaannya kemudian, yang manakah yang nantinya menjadi Egon sang pilot jagoan Luftwaffe? Pada mulanya Olympio berkeyakinan bahwa si pilot adalah Egon Alberto Kummrow, yang kemudian mengganti namanya menjadi lebih berbau Jerman (Egon Albrecht) ketika pindah ke negaranya Adolf Hitler. ternyata penelitian lanjutan membuktikan bahwa sebenarnyalah Egon Albrecht lahir di distrik Portão dan bukan di Paraná, sehingga satu nama yang masuk kriteria ini adalah Egon Friedrich Kurt, yang kemungkinan besar mengubah namanya ketika dewasa menjadi Egon Albrecht sesuai dengan nama keluarganya. Lah, terus kenapa pula waktu dia diregistrasi lahir memakai nama Egon Friedrich Kurt? Apakah Egon sendiri adalah anak adopsi dari keluarga Albrecht?
Tahun 1940 Albrecht bertugas di 6./ZG 1 yang mengoperasikan pesawat pemburu bermesin ganda Messerschmitt Bf 110. Tanggal 26 Juni 1940 6./ZG 1 dirubah menjadi 9./ZG 76, dan kemudian menjadi 6./SKG 210 tanggal 24 April 1941. bersama dengan 6./SKG 210 Albrecht bertempur di medan perang Rusia. Tanggal 4 Januari 1942, 6./SKG 210 dirubah kembali menjadi 6./ZG 1. Albrecht ditunjuk sebagai Staffelkapitän dari 1./ZG 1 tanggal 12 Juni 1942. oberleutnant Egon Albrecht dianugerahi Ritterkreuz tanggal 25 Mei 1943 setelah mencatat 15 kemenangan udara, menghancurkan 11 pesawat musuh di darat, 162 kendaraan bermotor, 254 kendaraan yang ditarik kuda, 3 lokomotif, 8 posisi flak, 12 posisi anti-tank, 10 posisi artileri dan 8 posisi infanteri (bunker) yang kesemuanya dia hancurkan dari udara!
Tanggal 9 Oktober 1943 Hauptmann Albrecht menggantikan Hauptmann Karl-Heinrich Matern (12 kemenangan udara, peraih Ritterkreuz yang terbunuh dalam tugas tanggal 8 Oktober 1943) sebagai Gruppenkomandeur dari II./ZG 1. bulan itu pula II./ZG 1 dipindahkan ke Front Barat dan berpangkalan di pantai Atlantik Prancis, dengan tugas melakukan patroli rutin di sepanjang pantai Biscay. Tapi tak lama kemudian, masih di bulan Oktober 1943, Gruppe pimpinan Albrecht ditransfer ke Wels di Austria untuk menghadang penyusupan yang biasa dilakukan oleh pesawat-pesawat Sekutu yang datang dari Selatan, tepatnya USAAF 15th Air Force yang berpangkalan di Italia. Pada bulan Juli 1944, II./ZG 1 kembali ke Jerman untuk pengkonversian pesawat-pesawatnya menjadi Messerschmitt Bf 109 yang bermesin tunggal dan perubahan nama menjadi III./JG 76. Albrecht kemudian memimpin Gruppe-nya ke tempat invasi Sekutu. Tanggal 25 Agustus 1944 Albrecht terpaksa break-off dari misinya karena masalah mesin pada pesawatnya. Dalam perjalanan pulang dia berpapasan dengan sebuah pesawat pemburu P-51 dari USAAF. Dalam aksi dog-fight yang terjadi kemudian, pesawat Albrecht (Bf 109 G-14 W.Nr. 460 593 “Schwarze 21”) ditembak jatuh di atas St. Claude dekat Creil. Albrecht berhasil keluar dari pesawatnya yang menukik jatuh, tapi telah menjadi mayat ketika kemudian ditemukan di darat.
Egon Albrecht berhasil mencatat 25 kemenangan udara (15 kemenangan di Front Timur dan 10 kemenangan di Front Barat) dalam 250 misi tempur. Termasuk di antara kemenangannya adalah enam buah pesawat pembom bermesin empat. Sebagai tambahan, dia berhasil menghancurkan 11 pesawat musuh di darat.
Selain Egon Albrecht, pilot Luftwaffe lain yang berasal dari Brazil di antaranya adalah Wolfgang Ortmann. Sedangkan setelah perang, pilot Luftwaffe yang bermigrasi ke Brazil adalah Martin Drewes pada tahun 1949.
Unit yang pernah dimasuki Egon Albrecht :
Zerstörergeschwader 76
Stukageschwader 210
Zerstörergeschwader 1
Jagdgeschwader 76
Medali yang diterima oleh Egon Albrecht : 22 Mei 1943 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes sebagai Oberleutnant dan Staffelkapitän dari 6./Zerstörergeschwader 1
3 Desember 1942 Deutsches Kreuz in Gold
21 September 1942 Ehrenpokal
Eisernes Kreuz I. Klasse
Eisernes Kreuz II. Klasse
Frontflug-Spange in Gold
Frontflug-Spange in Silber
Frontflug-Spange in Bronze
Flugzeugführerabzeichen
Verwundetenabzeichen, 1939 in Silber (atau Gold)
Medaille "Winterschlacht im Osten 1941/42"
Demi untuk membagi apa yang saya ketahui tentang Third Reich, maka blog ini ada. Terimakasih atas kunjungannya, dan kalau ada saran atau kritik, layangkan saja ke : alifrafikkhan@gmail.com. Bagi yang ingin memiliki VCD dan DVD dokumenter Nazi, juga bisa menghubungi saya dengan mengklik foto... Heute ist ein guter tag um geschichte zu schreiben!
Pasang Iklan di Blog Kamu
Punya blog terus ingin masang iklan dan dapat duit dari sana? Jadilah anggota KumpulBlogger!